Tak Takut Hidup
Senja kota Alexandria kali ini
berbeda dengan senja-senja yang telah kulewati selama empat tahun ini. Hari ini
adalah waktu kepulanganku ke Indonesia. Senja yang indah berubah gundah
seketika. Namun apalah jua daya diri ini, saat yang dinanti pun tiba. Mengabdi
untuk bangsa. Apapun alasannya, sudah menjadi keharusan untuk kembali ke
pangkuan ibu pertiwi. Seperti halnya ungkapan sang pahlawan Bangsa dalam
persyarikatan yang ia dirikan; jadilah apapun dan kembalilah ke Muhammadiyah.
Pun seorang yang mengaku bagian dari sebuah negara dengan populasi muslim
terbesar, kembalilah ke negaramu, berbakti untuk ummat ini.
Nur Amirah, Lc. Kembali kupandangi
namaku dalam lembaran ijazah berwarna cokelat yang ukurannya agak besar itu. Terus
muncul pertanyaan dalam hati, apakah memang sudah cukup ilmu yang kucari selama
ini?, namun sepertinya sudah tidak ada pilihan kecuali segera mengabdi di tanah
air. Aku bergegas segera memasukkan berkas dan ijazahku kedalam tas ransel,
yang rencananya aku bawa ke atas kabin. Sebab jika kuletakkan didalam bagasi
takut hilang oleh tangan-tangan jahil yang sering ada di Airport.
Segera
aku keluar dari flat tempatku tinggal, kuhampiri rumah madam Julia yang
terletak didepan flat, kuketuk perlahan untuk segera berpamitan karena waktu keberangkatan
pesawat sudah tak lama lagi.
“kreet, . . .” muncul suara pintu terbuka
“Ahlan ya Amirah, hatirga’ dil wa’ti? Leh??”[1]
sambutnya dengan senyum khas
“Ahlan yaa mama. Aiwa, hanaruh mator ba’da suwayya.”[2]
Timpalku.
Aku berpamitan sekaligus menyerahkan kunci flat yang
aku sewa dari madam Julia. Dia seorang Kristen koptik yang taat. Sangat baik
dan santun dalam kesehariannya, beberapa kali aku menunggak biaya sewa flat
karena beasiswa yang tak kunjung turun.
“istanna suwayya, hagiblak haga!”[3]
pintanya padaku, sembari masuk kembali kedalam rumah.
Sesaat kemudian madam Julia menemuiku sembari membawa
bingkisan yang sudah dikemas. Lalu memberikannya padaku.
“di haga helwah lil andunisiyyiin.”[4]
Ucapnya sembari memberi bingkisan yang dibawanya.
“syukron awy ya madam”[5]
balasku, berterimakasih.
Mungkin oleh-oleh khas Mesir, dalam benakku. Kemudian
bergegas aku berpamitan karena takut terlambat.
***
Mahasiswi
yang terdaftar di Kuliyyah Banat[6]
Alexandria mungkin hanya hitungan jari, sebab generasi setelahku perkuliahan
untuk orang asing dari luar Mesir disediakan hanya di Universitas Al-Azhar
Cairo. Dan aku termasuk yang beruntung, bisa menamatkan pendidikan di kota
terindah yang pernah ada. Namun ada rumor bahwa pengalihan mahasiswa asing ke
kota Cairo agar lebih mudah dalam pembinaan yang diberikan karena terpusat di
satu tempat, tetapi semuanya pasti sudah diperhitungkan secara matang.
Perjalanan
panjang yang kulalui di kota ini tak akan pernah hilang dari ingatan, bagaimana
mungkin bagian hidup terpenting akan mampu hilang dimakan waktu. Tentang
bagaimana menjadi diri sendiri, tanpa orang tua ataupun keluarga, tentang
bagaimana hidup mengajarkan arti kehidupan. Pun bagaimana diri ini menyibukkan
diri dalam Organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berpusat di Cairo. Walau
harus pulang pergi setiap minggu namun semangat ini muncul begitu saja, masih
ada sisa kaderisasi pendidikan Muhammadiyah yang kukenyam di kota
pelajar dibagian tengah Indonesia. Dan aku mulai tak takut hidup sejak
berada disini, sebab tak takut hidup jauh lebih menakutkan dari tak takut mati.
Segala rintangan dan cobaan yang menerpa menjadikan lebih kuat diri ini.
Setelah
melalui empat jam perjalanan darat menuju Bandara Cairo akhirnya aku
betul-betul akan berpisah dengan negeri para nabi. Mesir. Sungguh berat untuk
meninggalkan sumber pondasi keilmuan yang telah dibangun sekian ratus tahun
oleh para ulama. Aku bertekad untuk tetap melanjutkan estafet keilmuan islam
walau dimanapun jua berada.
“Titip rindu untuk negri nun jauh kak, salam kangen
untuk Jogja juga” bisik Resya, sembari kami berpelukan erat.
Tak terasa butiran lembut menetes begitu saja,
merelakan sahabat dan kawan yang begitu baik. Namun Allah akan mengganti dengan
ganjaran atas pertemanan yang saleh ini.
“Kak, jangan lupa main di Bantul loh ya, si mbok udah
nunggu” cerocos Ayu, adik kelasku dahulu ketika di pesantren.
“iya, insya Allah” memberi janji.
Manusia hanya mampu berencana, dan Allah sebaik-baik
pembuat rencana. Bertemu karena Allah, begitupun sebaliknya. Hingga kami
betul-betul berpisah setelah aku memasuki Terminal bandara untuk check-in.
***
Semakin
panas saja kota jogja ini, mungkin gedung-gedung tinggi sudah mulai merebak
yang jadi salah satu penyebab sehingga efek rumah kaca begitu terasa. Bahkan
kabar terakhir yang kudengar akan dibangun beberapa pusat perbelanjaan lagi di
kota yang tak cukup untuk dikatakan besar. Jogja never ending Asia. Mungkin
jargon ini akan sulit dipertahankan kedepannya. Karena yang menjadikan kota ini
istimewa bukanlah kehidupan glamor, mewah, serta high class. Namun
santun, asri, budaya njawani, dan gotong royongnya lah yang menjadikan Jogja
begitu istimewa. Namun siapa yang mau disalahkan? Kehidupan akan terus mengalir
bagaikan air, tinggal kita memilih mengikuti arus atau malah melawannya.
Walau
sudah hampir lima tahun tak lagi berkunjung, kini akhirnya ke Jogja aku
kembali. Terbayang begitu jelas memori sebelum hari kelulusanku dari pesantren,
hari-hari terakhir sebelum kepulangan ke rumah masing-masing. Aku masih ingat
betul nasihat dari ustadzah Laela ketika kami berkumpul di Aula Pesantren.
Beliau berkata, “Kalian akan menjadi ibu nantinya. Apapun yang terjadi, dan
dimanapun kalian berada, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kalian,
sekalipun berada dalam posisi tersulit.”
Setelah
berpisah sekian lama dengan kawan pesantren dahulu, berpencar mencari
peruntungan, menghadapi ritual kehidupan yang tak jauh dari urusan perut dan
perut tak ada selainnya, hingga sangat memprihatinkan. Sudah ada diantara kami
yang jadi Guru, Diplomat Kemenlu, Pengusaha, Wartawan, Dosen di beberapa
universitas, juga pedagang es. Apakah kemudian mereka melupakan petuah untuk
bisa menjadi Ibu yang baik nantinya? Karena mau tidak mau, dengan serta merta
akan melekat label ibu pada pribadi wanita.
“Si
Rani sekarang udah jadi Wakil Rakyat di Bandung” Kata kawan satu kelasku
dahulu, ada getar bangga tampak dari suaranya. Seperti getar bahagia yang
terasa ketika ia menceritakan kawan lain yang jadi wanita karir, model, dan
pemilik toko emas di beberapa kota. Aku hanya mendengar dengan penuh perhatian
ke arahnya. Namun apakah mereka yang dikisahkan bersiap juga untuk menjadi ibu
yang baik seperti yang diamanahkan dahulu semenjak berada di bangku pesantren?
Semoga.
Menaiki mobil
menyusuri jalan Malioboro menjadi pilihan, sebelum akhirnya kita berbelok ke arah
taman pintar Jogja. Aku dan dua kawan melintasi Ratih, teman di pesantren dulu.
Kami berhenti. Hampir serentak kami berseru, menyebut namanya. Dia menoleh,
lalu melongo. Kulitnya jauh dari kata halus. Kerudung lebar, serta pakaiannya
lusuh terkena debu. Pundaknya tak lagi tegak berdiri, seolah menanggung beban
yang amat berat. Warna kulitnya berubah kecoklatan karena panasnya sinar
mentari. Sepatunya masih sama dengan yang ketika ia pakai dahulu di kelas kami.
“Dia jualan es cingcau di
sini,” kata seorang di antara kami di dalam mobil. Dan Ratih saat itu agaknya
memang menyangka kami memesan es yang ia jajakan. Dia siap menyajikannya, dan
baru terhenti begitu jendela kaca mobil terbuka. Dia berteriak! Tak menyangka
akan bertemu ketiga teman lamanya. Pelampiasan rindu sekian tahun menyemburat!
Kami berangkulan, bertukar cerita. Aku memberinya Antologi cerpen Anak Panah
Untuk Kinanah yang tertera di bagian depannya Nur Amirah, Lc.
Dkk hasil karya kawan-kawan PCIM Mesir untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah
yang akan datang. Di sampul bagian dalamnya aku tuliskan beberapa
kata, ‘untuk sahabatku, Ratih’.
“Kau yang buat karya ini?” tanyanya, seolah tak percaya. aku
mengangguk, “hanya sebagian” sembari kuberujar. Sebentar dia menunduk.
Jari-jari tangan yang kukenal betul mengusap matanya yang berair. “Aku hanya penjual
es,” katanya kemudian.
Kenapa harus ada “hanya” dalam
benakku. Seolah ia bekerja dibawah kolong para konglomerat. Ratih juga teman
kami satu pesantren yang dahulu berada dalam satu didikan yang sama para asaatidz.
Dan ratih juga sudah belajar menjadi ibu yang baik untuk mengayomi kelima
adik-adiknya yang berada dalam tanggungannya karena ayah mereka meninggal
selepas kelulusan kami. Pun setiap pagi ia mengabdikan diri mengajar di MI
Muhammadiyah di Kota Gede, itu yang kudengar dari penuturan kawanku. Dia sudah
menjadi ibu yang baik, seperti yang diamanahkan ustadzah Laela. Dengan kondisi
apapun Ratih tetap berjuang melawan hidup yang tak hanya sekedar hidup. Tapi
lebih dari itu, memberi arti sebuah kehidupan. Bahkan bagiku ia lebih baik
dari orang-orang yang mudah berputus
asa, mencoba peruntungan dengan cara kotor memakan harta haram berupa korupsi.
Jika kukatakan wonder women
yang sebenarnya, itulah dia. Tak takut menghadapi hidup, yang mana sejatinya
hidup itu sesuatu yang berat dengan konsekuensi yang ada dibaliknya. Dan Ratih
sungguh tidak sendirian, diluar sana masih banyak Ratih-Ratih lain yang sedang
berjuang menghadapi eksistensi diri dalam kehidupan. Banyak juga para ibu yang
kondisinya serupa dengan ratih, berusaha semaksimal mungkin menjadi ‘ibu yang
baik’.
Semakin mantap diriku untuk
mengabdikan diri dalam bangsa, persyarikatan dan tentunya mengabdikan diri
menjadi ibu yang baik, tak goyah diterpa badai dan ombak. Terima kasih Ratih,
pertemuan sore ini menjadikan diriku tergugah dan menyadari akan sesuatu. Akan
hidup serta kehidupan. Sekali lagi terima kasih Ratih. Dan sungguh senja kota
Jogja kali ini lebih indah dari senja Alexandria.
Muhammad Bakhrul Ilmi
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin
Universitas Al-Azhar Cairo
Email : baritho.mbi@gmail.com
Diperuntukan untuk Antologi Cerpen milik PCIM Mesir dalam rangka menyambut Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015.
0 comments:
Posting Komentar