Cerpen ; Beda Sisi

Minggu, 19 Juli 2015


BEDA SISI
Selepas shalat dzuhur kucoba menengok kembali jadwal aktifitas harian. Tepat pukul dua siang ini ada jadwal rapat untuk pengurus Wihdah[1]. Untuk meyakinkan diri ini, harus kulihat lagi jadwal yang sudah tersusun rapi setiap harinya. Dan memang benar, ternyata ada kegiatan bulanan untuk rapat evaluasi kegiatan. Namun sebenarnya tubuh ini menolak untuk diajak berkompromi, karena cuaca hari ini yang sungguh tak bersahabat. Seperti kata Ebiet G. Ade dalam alunan nya “Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”. Bayangkan saja, perkiraan cuaca hari ini menembus angka 41 derajat celcius. Bukan hanya suhu panas yang menjadi alasan satu-satu nya, namun masih ada alasan lain yang juga membuat raga ini enggan keluar dari sangkarnya.
***
Setengah jam lagi rapat evaluasi wihdah akan dimulai, dan aku masih menunggu bus di Halte Madinat Buuts[2]. Dengan mantap dan niat yang utuh akhirnya harapan yang ditunggu mulai tampak wujudnya. Tiga jim berhenti tepat didepan halte tempatku terdiam. Dengan jilbab biru keabu abuan tanpa pewangi, mulai kudekati bus warna merah. Sempat sebelumnya tiga jim berwarna hijau muda, namun sepertinya mulai berinovasi dengan tampilan barunya. Mulai dengan menaiki satu per satu tangga bus secara perlahan melalu pintu bagian depan, muncul harapan semoga ada tempat duduk yang kosong. Dan benar saja, kenyataan tidak semanis yang diinginkan.
“Ib’at, ib’at, huss gowa”[3] teriak seorang bapak tua yang tak lain adalah kernet bus.
Padahal bus hampir tak muat menampung penumpang yang berjubel, namun pak tua tetap memaksa agar semua penumpang naik.
            Perlahan aku mulai keluar dari zona nyaman ku. Ditengah riuhnya penumpang yang baru saja menaiki tiga jim, kepala ini mulai berfikir bagaimana cara agar kudapatkan tempat duduk. Bukan tidak mungkin seorang wanita mendapatkan tempat duduk didalam bus. Karena sejatinya orang mesir sangat menghormati wanita. Jangan berani macam-macam didepan wanita mesir. Selain mereka dihormati, ternyata galak juga. Sedikit saja anggota badannya tersentuh tak sengaja, bisa geger dunia persilatan. Posisi ini sedikit menguntungkanku sebagai seorang wanita. Karena penghormatan yang besar akan wanita tidak sebatas kepada orang mesir saja, wanita-wanita dari Negara lain pun tentu mendapatkan penghormatan tersebut. Aku termasuk wanita.
            Cukup dengan pasang muka tak berdosa dan berdiri dengan bergelantungan, akan datang banyak tawaran untuk duduk. Biasanya laki-laki muda yang lebih dulu menawarkannya, karena merasa ada yang lebih berhak duduk. Atau mereka memaknai betul ayat “Arrijaalu qawwamuuna ‘alannisaa” hingga urusan seperti ini pun rela memberikan tempat duduknya. Sedari tadi kuamati dengan seksama dari samping kemudi sang supir bus, ternyata seluruh kursi bagian depan ditempati oleh ibu-ibu yang sudah sepuh, kecuali ada satu kursi tepat dibelakang pak supir yang didiami seorang pemuda. “haha, dia korban hari ini” bisik ku dalam hati.
            Kacamata hitam menempel diatas hidungnya yang mancung. Parasnya yang elok meneduhkan siapa saja yang melihatnya. Secara umum memang wajah penduduk pribumi mesir diatas rata-rata. Pantas saja Zulaikha takluk dengan ketampanan Nabi Yusuf, yang sepertinya diwariskan kepada pemuda didepanku. Aku bergeser perlahan ke arahnya, karena jarak antara kita berdua tidak jauh. Karena kondisi bus memang sedang penuh betul, aku berdiri dibelakang kemudi supir dengan bersandar. Dan posisiku tepat berada didepan sang pemuda tampan. Kacamata hitam yang ia kenakan pastilah bukan barang mahal, aku sering melihat bentuk yang serupa ketika berbelanja perkakas dapur di toko rakyat ‘Atabah[4]. Mungkin harganya tak lebih dari dua puluh pound mesir.
“inti malayzi?”[5] sebuah suara membuyarkanku sejenak.
Ternyata kernet bus yang datang dengan tumpukan karcis di tangan kirinya. Ia mulai menarik ongkos bus untuk penumpang yang baru naik.
“La’, ana andunisi”[6] jawabku singkat. Sembari memberikan uang satu pound padanya.
“Ahsanunnass”[7] jawabnya menimpali. Sambil menyodorkan tiket bus berwarna kuning padaku. Lalu beralih ke penumpang baru yang lain.
            Kali ini posisiku betul-betul berhadapan dengan sang pemuda tampan. Namun aku mulai cemas, karena tak ada reaksi sedikitpun dari pemuda mesir itu. Aku yakin pemuda tampan melihat betul pijakanku didepannya. Belum selesai rasa cemasku habis, kudengar lantunan ayat keluar dari mulut pemuda dihadapanku. Dengan suara lirih namun terdengar jelas.
***
            Hampir separuh perjalanan aku berdiri, pemuda mesir didepanku tidak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Tidak ada tawaran untuk mempersilahkanku duduk. Bahkan seolah tidak menyadari keberdaanku didepannya. Sungguh acuh betul.
“dasar, tega betul membiarkan wanita berdiri.” Hardikku dalam hati.
Kesal dan lelah bercampur menjadi satu, terlebih suhu udara yang sepertinya bertambah panas saja. Ini sebenarnya yang menjadikanku malas untuk keluar asrama. Terlebih muncul sosok yang sok alim muroja’ah hafalan namun mengabaikan wanita disisinya. Dan tampan bukan jaminan juga. Huh.
            Perlahan namun pasti bus berjalan perlahan, dan kondisiku tidak berubah, aku tetap berdiri. Namun ada sesuatu yang aneh kulihat, pemuda mesir didepanku meraba-raba kolong kursi dibawahnya seolah mencari sesuatu. Sebuah tongkat ia keluarkan. Berhenti sejenak, lalu mulai berdiri.
“Naazil fii madinat gam’iyyah yaa rois”[8] teriaknya pada sang supir.
Aku masih belum percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ternyata ia seorang Mahasiswa Al-Azhar dengan penglihatan yang tak sempurna. Sungguh berdosa diri ini atas sangka yang buruk. Sesaat ketika sampai di kawasan asrama mahasiswa mesir, pemuda tampan turun perlahan dengan bantuan kernet bus. Kemudian bus berlalu tanpa menghiraukan batin yang berkecamuk ini.



[1] Persatuan Pelajar Putri dan Mahasiswi di Republik Arab Mesir
[2] Asrama Mahasiswa untuk duta Al-Azhar dari berbagai Negara
[3] Geser, geser, masuk kedalam
[4] Pasar rakyat yang menjual segala macam barang dengan harga murah. Bertempat di kota Cairo.
[5] Kamu orang Malaysia?
[6] Bukan, saya orang Indonesia
[7] Good people
[8] Saya turun di ‘Madinat Jam’iyyah’ pak supir

Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi

Cerpen ini menjadi Juara 3 Lomba Kepenulisan Cerita Pendek Senat Syari'ah Universitas Al-Azhar Cairo 2015

0 comments:

Pages