Cerpen; Tak Takut Hidup

Minggu, 19 Juli 2015 0 comments


Tak Takut Hidup
Senja kota Alexandria kali ini berbeda dengan senja-senja yang telah kulewati selama empat tahun ini. Hari ini adalah waktu kepulanganku ke Indonesia. Senja yang indah berubah gundah seketika. Namun apalah jua daya diri ini, saat yang dinanti pun tiba. Mengabdi untuk bangsa. Apapun alasannya, sudah menjadi keharusan untuk kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Seperti halnya ungkapan sang pahlawan Bangsa dalam persyarikatan yang ia dirikan; jadilah apapun dan kembalilah ke Muhammadiyah. Pun seorang yang mengaku bagian dari sebuah negara dengan populasi muslim terbesar, kembalilah ke negaramu, berbakti untuk ummat ini.
Nur Amirah, Lc. Kembali kupandangi namaku dalam lembaran ijazah berwarna cokelat yang ukurannya agak besar itu. Terus muncul pertanyaan dalam hati, apakah memang sudah cukup ilmu yang kucari selama ini?, namun sepertinya sudah tidak ada pilihan kecuali segera mengabdi di tanah air. Aku bergegas segera memasukkan berkas dan ijazahku kedalam tas ransel, yang rencananya aku bawa ke atas kabin. Sebab jika kuletakkan didalam bagasi takut hilang oleh tangan-tangan jahil yang sering ada di Airport.
                Segera aku keluar dari flat tempatku tinggal, kuhampiri rumah madam Julia yang terletak didepan flat, kuketuk perlahan untuk segera berpamitan karena waktu keberangkatan pesawat sudah tak lama lagi.
“kreet, . . .” muncul suara pintu terbuka
“Ahlan ya Amirah, hatirga’ dil wa’ti? Leh??”[1] sambutnya dengan senyum khas
“Ahlan yaa mama. Aiwa, hanaruh mator ba’da suwayya.”[2] Timpalku.
Aku berpamitan sekaligus menyerahkan kunci flat yang aku sewa dari madam Julia. Dia seorang Kristen koptik yang taat. Sangat baik dan santun dalam kesehariannya, beberapa kali aku menunggak biaya sewa flat karena beasiswa yang tak kunjung turun.
“istanna suwayya, hagiblak haga!”[3] pintanya padaku, sembari masuk kembali kedalam rumah.
Sesaat kemudian madam Julia menemuiku sembari membawa bingkisan yang sudah dikemas. Lalu memberikannya padaku.
“di haga helwah lil andunisiyyiin.”[4] Ucapnya sembari memberi bingkisan yang dibawanya.
“syukron awy ya madam”[5] balasku, berterimakasih.
Mungkin oleh-oleh khas Mesir, dalam benakku. Kemudian bergegas aku berpamitan karena takut terlambat.
***
                Mahasiswi yang terdaftar di Kuliyyah Banat[6] Alexandria mungkin hanya hitungan jari, sebab generasi setelahku perkuliahan untuk orang asing dari luar Mesir disediakan hanya di Universitas Al-Azhar Cairo. Dan aku termasuk yang beruntung, bisa menamatkan pendidikan di kota terindah yang pernah ada. Namun ada rumor bahwa pengalihan mahasiswa asing ke kota Cairo agar lebih mudah dalam pembinaan yang diberikan karena terpusat di satu tempat, tetapi semuanya pasti sudah diperhitungkan secara matang.
                Perjalanan panjang yang kulalui di kota ini tak akan pernah hilang dari ingatan, bagaimana mungkin bagian hidup terpenting akan mampu hilang dimakan waktu. Tentang bagaimana menjadi diri sendiri, tanpa orang tua ataupun keluarga, tentang bagaimana hidup mengajarkan arti kehidupan. Pun bagaimana diri ini menyibukkan diri dalam Organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berpusat di Cairo. Walau harus pulang pergi setiap minggu namun semangat ini muncul begitu saja, masih ada sisa kaderisasi pendidikan Muhammadiyah yang kukenyam di kota pelajar dibagian tengah Indonesia. Dan aku mulai tak takut hidup sejak berada disini, sebab tak takut hidup jauh lebih menakutkan dari tak takut mati. Segala rintangan dan cobaan yang menerpa menjadikan lebih kuat diri ini.
                Setelah melalui empat jam perjalanan darat menuju Bandara Cairo akhirnya aku betul-betul akan berpisah dengan negeri para nabi. Mesir. Sungguh berat untuk meninggalkan sumber pondasi keilmuan yang telah dibangun sekian ratus tahun oleh para ulama. Aku bertekad untuk tetap melanjutkan estafet keilmuan islam walau dimanapun jua berada.
“Titip rindu untuk negri nun jauh kak, salam kangen untuk Jogja juga” bisik Resya, sembari kami berpelukan erat.
Tak terasa butiran lembut menetes begitu saja, merelakan sahabat dan kawan yang begitu baik. Namun Allah akan mengganti dengan ganjaran atas pertemanan yang saleh ini.
“Kak, jangan lupa main di Bantul loh ya, si mbok udah nunggu” cerocos Ayu, adik kelasku dahulu ketika di pesantren.
“iya, insya Allah” memberi janji.
Manusia hanya mampu berencana, dan Allah sebaik-baik pembuat rencana. Bertemu karena Allah, begitupun sebaliknya. Hingga kami betul-betul berpisah setelah aku memasuki Terminal bandara untuk check-in.
***
                Semakin panas saja kota jogja ini, mungkin gedung-gedung tinggi sudah mulai merebak yang jadi salah satu penyebab sehingga efek rumah kaca begitu terasa. Bahkan kabar terakhir yang kudengar akan dibangun beberapa pusat perbelanjaan lagi di kota yang tak cukup untuk dikatakan besar. Jogja never ending Asia. Mungkin jargon ini akan sulit dipertahankan kedepannya. Karena yang menjadikan kota ini istimewa bukanlah kehidupan glamor, mewah, serta high class. Namun santun, asri, budaya njawani, dan gotong royongnya lah yang menjadikan Jogja begitu istimewa. Namun siapa yang mau disalahkan? Kehidupan akan terus mengalir bagaikan air, tinggal kita memilih mengikuti arus atau malah melawannya.
                Walau sudah hampir lima tahun tak lagi berkunjung, kini akhirnya ke Jogja aku kembali. Terbayang begitu jelas memori sebelum hari kelulusanku dari pesantren, hari-hari terakhir sebelum kepulangan ke rumah masing-masing. Aku masih ingat betul nasihat dari ustadzah Laela ketika kami berkumpul di Aula Pesantren. Beliau berkata, “Kalian akan menjadi ibu nantinya. Apapun yang terjadi, dan dimanapun kalian berada, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kalian, sekalipun berada dalam posisi tersulit.”
                Setelah berpisah sekian lama dengan kawan pesantren dahulu, berpencar mencari peruntungan, menghadapi ritual kehidupan yang tak jauh dari urusan perut dan perut tak ada selainnya, hingga sangat memprihatinkan. Sudah ada diantara kami yang jadi Guru, Diplomat Kemenlu, Pengusaha, Wartawan, Dosen di beberapa universitas, juga pedagang es. Apakah kemudian mereka melupakan petuah untuk bisa menjadi Ibu yang baik nantinya? Karena mau tidak mau, dengan serta merta akan melekat label ibu pada pribadi wanita.
                “Si Rani sekarang udah jadi Wakil Rakyat di Bandung” Kata kawan satu kelasku dahulu, ada getar bangga tampak dari suaranya. Seperti getar bahagia yang terasa ketika ia menceritakan kawan lain yang jadi wanita karir, model, dan pemilik toko emas di beberapa kota. Aku hanya mendengar dengan penuh perhatian ke arahnya. Namun apakah mereka yang dikisahkan bersiap juga untuk menjadi ibu yang baik seperti yang diamanahkan dahulu semenjak berada di bangku pesantren? Semoga.
             Menaiki mobil menyusuri jalan Malioboro menjadi pilihan, sebelum akhirnya kita berbelok ke arah taman pintar Jogja. Aku dan dua kawan melintasi Ratih, teman di pesantren dulu. Kami berhenti. Hampir serentak kami berseru, menyebut namanya. Dia menoleh, lalu melongo. Kulitnya jauh dari kata halus. Kerudung lebar, serta pakaiannya lusuh terkena debu. Pundaknya tak lagi tegak berdiri, seolah menanggung beban yang amat berat. Warna kulitnya berubah kecoklatan karena panasnya sinar mentari. Sepatunya masih sama dengan yang ketika ia pakai dahulu di kelas kami.
“Dia jualan es cingcau di sini,” kata seorang di antara kami di dalam mobil. Dan Ratih saat itu agaknya memang menyangka kami memesan es yang ia jajakan. Dia siap menyajikannya, dan baru terhenti begitu jendela kaca mobil terbuka. Dia berteriak! Tak menyangka akan bertemu ketiga teman lamanya. Pelampiasan rindu sekian tahun menyemburat! Kami berangkulan, bertukar cerita. Aku memberinya Antologi cerpen Anak Panah Untuk Kinanah yang tertera di bagian depannya Nur Amirah, Lc. Dkk hasil karya kawan-kawan PCIM Mesir untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah yang akan datang. Di sampul bagian dalamnya aku tuliskan beberapa kata, ‘untuk sahabatku, Ratih’.
“Kau yang buat karya ini?” tanyanya, seolah tak percaya. aku mengangguk, “hanya sebagian” sembari kuberujar. Sebentar dia menunduk. Jari-jari tangan yang kukenal betul mengusap matanya yang berair. “Aku hanya penjual es,” katanya kemudian.
Kenapa harus ada “hanya” dalam benakku. Seolah ia bekerja dibawah kolong para konglomerat. Ratih juga teman kami satu pesantren yang dahulu berada dalam satu didikan yang sama para asaatidz. Dan ratih juga sudah belajar menjadi ibu yang baik untuk mengayomi kelima adik-adiknya yang berada dalam tanggungannya karena ayah mereka meninggal selepas kelulusan kami. Pun setiap pagi ia mengabdikan diri mengajar di MI Muhammadiyah di Kota Gede, itu yang kudengar dari penuturan kawanku. Dia sudah menjadi ibu yang baik, seperti yang diamanahkan ustadzah Laela. Dengan kondisi apapun Ratih tetap berjuang melawan hidup yang tak hanya sekedar hidup. Tapi lebih dari itu, memberi arti sebuah kehidupan. Bahkan bagiku ia lebih baik dari  orang-orang yang mudah berputus asa, mencoba peruntungan dengan cara kotor memakan harta haram berupa korupsi.
Jika kukatakan wonder women yang sebenarnya, itulah dia. Tak takut menghadapi hidup, yang mana sejatinya hidup itu sesuatu yang berat dengan konsekuensi yang ada dibaliknya. Dan Ratih sungguh tidak sendirian, diluar sana masih banyak Ratih-Ratih lain yang sedang berjuang menghadapi eksistensi diri dalam kehidupan. Banyak juga para ibu yang kondisinya serupa dengan ratih, berusaha semaksimal mungkin menjadi ‘ibu yang baik’.
Semakin mantap diriku untuk mengabdikan diri dalam bangsa, persyarikatan dan tentunya mengabdikan diri menjadi ibu yang baik, tak goyah diterpa badai dan ombak. Terima kasih Ratih, pertemuan sore ini menjadikan diriku tergugah dan menyadari akan sesuatu. Akan hidup serta kehidupan. Sekali lagi terima kasih Ratih. Dan sungguh senja kota Jogja kali ini lebih indah dari senja Alexandria.

Muhammad Bakhrul Ilmi
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Cairo
Email : baritho.mbi@gmail.com
Diperuntukan untuk Antologi Cerpen milik PCIM Mesir dalam rangka menyambut Muktamar Muhammadiyah di Makassar tahun 2015.


[1] Silahkan Amirah. Kamu mau pulang sekarang? Kenapa??
[2] Terimakasih bu. Iya, saya mau ke bandara sebentar lagi.
[3] Tunggu sebentar, saya mau ngasih sesuatu.
[4] Ini bingkisan untuk orang di Indonesia
[5] Terima kasih banyak bu
[6] Kuliyyah banat : Perkuliahan Khusus Perempuan

Cerpen ; Beda Sisi

0 comments


BEDA SISI
Selepas shalat dzuhur kucoba menengok kembali jadwal aktifitas harian. Tepat pukul dua siang ini ada jadwal rapat untuk pengurus Wihdah[1]. Untuk meyakinkan diri ini, harus kulihat lagi jadwal yang sudah tersusun rapi setiap harinya. Dan memang benar, ternyata ada kegiatan bulanan untuk rapat evaluasi kegiatan. Namun sebenarnya tubuh ini menolak untuk diajak berkompromi, karena cuaca hari ini yang sungguh tak bersahabat. Seperti kata Ebiet G. Ade dalam alunan nya “Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita”. Bayangkan saja, perkiraan cuaca hari ini menembus angka 41 derajat celcius. Bukan hanya suhu panas yang menjadi alasan satu-satu nya, namun masih ada alasan lain yang juga membuat raga ini enggan keluar dari sangkarnya.
***
Setengah jam lagi rapat evaluasi wihdah akan dimulai, dan aku masih menunggu bus di Halte Madinat Buuts[2]. Dengan mantap dan niat yang utuh akhirnya harapan yang ditunggu mulai tampak wujudnya. Tiga jim berhenti tepat didepan halte tempatku terdiam. Dengan jilbab biru keabu abuan tanpa pewangi, mulai kudekati bus warna merah. Sempat sebelumnya tiga jim berwarna hijau muda, namun sepertinya mulai berinovasi dengan tampilan barunya. Mulai dengan menaiki satu per satu tangga bus secara perlahan melalu pintu bagian depan, muncul harapan semoga ada tempat duduk yang kosong. Dan benar saja, kenyataan tidak semanis yang diinginkan.
“Ib’at, ib’at, huss gowa”[3] teriak seorang bapak tua yang tak lain adalah kernet bus.
Padahal bus hampir tak muat menampung penumpang yang berjubel, namun pak tua tetap memaksa agar semua penumpang naik.
            Perlahan aku mulai keluar dari zona nyaman ku. Ditengah riuhnya penumpang yang baru saja menaiki tiga jim, kepala ini mulai berfikir bagaimana cara agar kudapatkan tempat duduk. Bukan tidak mungkin seorang wanita mendapatkan tempat duduk didalam bus. Karena sejatinya orang mesir sangat menghormati wanita. Jangan berani macam-macam didepan wanita mesir. Selain mereka dihormati, ternyata galak juga. Sedikit saja anggota badannya tersentuh tak sengaja, bisa geger dunia persilatan. Posisi ini sedikit menguntungkanku sebagai seorang wanita. Karena penghormatan yang besar akan wanita tidak sebatas kepada orang mesir saja, wanita-wanita dari Negara lain pun tentu mendapatkan penghormatan tersebut. Aku termasuk wanita.
            Cukup dengan pasang muka tak berdosa dan berdiri dengan bergelantungan, akan datang banyak tawaran untuk duduk. Biasanya laki-laki muda yang lebih dulu menawarkannya, karena merasa ada yang lebih berhak duduk. Atau mereka memaknai betul ayat “Arrijaalu qawwamuuna ‘alannisaa” hingga urusan seperti ini pun rela memberikan tempat duduknya. Sedari tadi kuamati dengan seksama dari samping kemudi sang supir bus, ternyata seluruh kursi bagian depan ditempati oleh ibu-ibu yang sudah sepuh, kecuali ada satu kursi tepat dibelakang pak supir yang didiami seorang pemuda. “haha, dia korban hari ini” bisik ku dalam hati.
            Kacamata hitam menempel diatas hidungnya yang mancung. Parasnya yang elok meneduhkan siapa saja yang melihatnya. Secara umum memang wajah penduduk pribumi mesir diatas rata-rata. Pantas saja Zulaikha takluk dengan ketampanan Nabi Yusuf, yang sepertinya diwariskan kepada pemuda didepanku. Aku bergeser perlahan ke arahnya, karena jarak antara kita berdua tidak jauh. Karena kondisi bus memang sedang penuh betul, aku berdiri dibelakang kemudi supir dengan bersandar. Dan posisiku tepat berada didepan sang pemuda tampan. Kacamata hitam yang ia kenakan pastilah bukan barang mahal, aku sering melihat bentuk yang serupa ketika berbelanja perkakas dapur di toko rakyat ‘Atabah[4]. Mungkin harganya tak lebih dari dua puluh pound mesir.
“inti malayzi?”[5] sebuah suara membuyarkanku sejenak.
Ternyata kernet bus yang datang dengan tumpukan karcis di tangan kirinya. Ia mulai menarik ongkos bus untuk penumpang yang baru naik.
“La’, ana andunisi”[6] jawabku singkat. Sembari memberikan uang satu pound padanya.
“Ahsanunnass”[7] jawabnya menimpali. Sambil menyodorkan tiket bus berwarna kuning padaku. Lalu beralih ke penumpang baru yang lain.
            Kali ini posisiku betul-betul berhadapan dengan sang pemuda tampan. Namun aku mulai cemas, karena tak ada reaksi sedikitpun dari pemuda mesir itu. Aku yakin pemuda tampan melihat betul pijakanku didepannya. Belum selesai rasa cemasku habis, kudengar lantunan ayat keluar dari mulut pemuda dihadapanku. Dengan suara lirih namun terdengar jelas.
***
            Hampir separuh perjalanan aku berdiri, pemuda mesir didepanku tidak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya. Tidak ada tawaran untuk mempersilahkanku duduk. Bahkan seolah tidak menyadari keberdaanku didepannya. Sungguh acuh betul.
“dasar, tega betul membiarkan wanita berdiri.” Hardikku dalam hati.
Kesal dan lelah bercampur menjadi satu, terlebih suhu udara yang sepertinya bertambah panas saja. Ini sebenarnya yang menjadikanku malas untuk keluar asrama. Terlebih muncul sosok yang sok alim muroja’ah hafalan namun mengabaikan wanita disisinya. Dan tampan bukan jaminan juga. Huh.
            Perlahan namun pasti bus berjalan perlahan, dan kondisiku tidak berubah, aku tetap berdiri. Namun ada sesuatu yang aneh kulihat, pemuda mesir didepanku meraba-raba kolong kursi dibawahnya seolah mencari sesuatu. Sebuah tongkat ia keluarkan. Berhenti sejenak, lalu mulai berdiri.
“Naazil fii madinat gam’iyyah yaa rois”[8] teriaknya pada sang supir.
Aku masih belum percaya dengan apa yang barusan terjadi. Ternyata ia seorang Mahasiswa Al-Azhar dengan penglihatan yang tak sempurna. Sungguh berdosa diri ini atas sangka yang buruk. Sesaat ketika sampai di kawasan asrama mahasiswa mesir, pemuda tampan turun perlahan dengan bantuan kernet bus. Kemudian bus berlalu tanpa menghiraukan batin yang berkecamuk ini.



[1] Persatuan Pelajar Putri dan Mahasiswi di Republik Arab Mesir
[2] Asrama Mahasiswa untuk duta Al-Azhar dari berbagai Negara
[3] Geser, geser, masuk kedalam
[4] Pasar rakyat yang menjual segala macam barang dengan harga murah. Bertempat di kota Cairo.
[5] Kamu orang Malaysia?
[6] Bukan, saya orang Indonesia
[7] Good people
[8] Saya turun di ‘Madinat Jam’iyyah’ pak supir

Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi

Cerpen ini menjadi Juara 3 Lomba Kepenulisan Cerita Pendek Senat Syari'ah Universitas Al-Azhar Cairo 2015

Pages