Budaya itu milik siapa?

Rabu, 15 Januari 2014
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya. Dari ujung Sabang sampai Merauke memiliki budaya yang berbeda-beda. Namun dengan keberanekaragaman budaya inilah rakyat Indonesia mampu untuk belajar bagaimana menjadi makhluk sosial yang baik tanpa merugikan sesamanya. Pun dalam toleransi antara sesama, rakyat Indonesia banyak belajar dari multibudaya ini. Hal yang sering muncul di benak kita adalah apakah kita sudah termasuk dalam kategori insan yang berbudaya?. Pastinya akan sulit menjawab pertanyaan sederhana ini, karena setiap diri kita banyak yang belum tahu barometernya.
Suatu kali Ki hajar dewantoro pernah memberi pandangan tentang kebudayaan, bahwasanya kebudayaan bagi beliau adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Tampak sekali dengan sangat jelas bahwa kekayaan kebudayaan Indonesia tidak akan ada tanpa sumbangsih dari budaya-budaya daerah. Dan beruntung sekali kita bisa terlahir dari masyarakat yang berbudaya, Indonesia tentunya. Dimana sebagian populasi sosial banyak yang tidak memiliki kebudayaan dalam mengawali dan meniti proses bermasyarakat. Terbentang sepanjang kepulauan Indonesia sebanyak 17.508 pulau serta 1.128 suku bangsa sungguh bukan sesuatu yang remeh. Anegerah Tuhan yang sangat besar ini jatuh ke tangan Indonesia sebagai ibu pertiwi.
Teringat dengan karya seorang ulama asal Damaskus yang berjudul fii anduunisia, beliau menuliskan “Surga dunia itu bukan Syam, Lebanon, ataupun Swiss. Tapi surga dunia itu adalah Jawa. Siapa yang pernah melihatnya akan tahu kalau aku berkata benar, tapi bagi yang belum melihatnya maka penjelasan tak akan cukup untuk menggambarkannya. Karena kabar berita itu tak seperti apa yang tersolok oleh mata. Dua hari aku menjelajahinya. Selama 50 tahun dalam hidupku, aku tak pernah menemukan rasa nyaman melebihi dua hari yang kulalui itu. Aku juga tak pernah menemukan pemandangan yang lebih indah dan akan terus membekas dalam hatiku melebihi apa yang kusaksikan selama dua hari itu. Dengan menggunakan kereta kujelajahi pulau Jawa itu selama dua hari, dari barat hingga ke timur, dari Jakarta hingga Surabaya, melewati jalan yang sebelumnya tak pernah kulihat atau dengar, dan aku tak pernah menduga bahwa aku akan menyaksikan dan mendengar sendiri bahwa di dunia ini ada jalan yang menyuguhkan keindahan seperti jalan ini…” beliau pernah berkunjung ke Indonesia sekitar tahun limapuluhan.
Kembali penulis berfikir, itu baru serangkaian budaya yang kebetulan disinggahi oleh beliau, dan masih dalam satu pulau pula. Belum lagi pulau-pulau lainnya yang keindahannya bahkan tidak terlintas di benak kita. Hal ini membuktikan betapa kayanya Indonesia dengan segala apa yang ada didalamnya. Terkhusus dengan keanekaragaman budayanya, mulai dari ujung Aceh dengan Tari Rapa’i Geleng hingga ujung Papua dengan Yosim Pancar nya.
Sekarang yang menjadi problema adalah banyak dari masyarakat yang kurang peduli dengan budaya yang dimilikinya, ditambah lagi dengan malu terhadap budaya sendiri yang terlihat kuno atau tidak mengikuti zaman. Hal ini berawal dari rakyat Indonesia yang banyak tidak mengenal kebudayaan yang sudah ada disekitarnya. Seperti kata seorang pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ada benarnya juga ungkapan tersebut, bahwa berawal dari tidak mengenal kebudayaan milik bangsanya sendiri, tidak muncul rasa memiliki. Apa yang ingin dipromosikan jika mengenal pun tidak?.
Gangguan eksternal pun tidak luput dari lingkup masyarakat kita. Televisi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap hubungan mereka dengan budaya. Terbukti 95% rumah tangga kelas menengah mempunyai televisi. Hal ini berdasarkan hasil survey perusahaan riset media, Nielsen Indonesia, yang dilakukan di Sembilan kota besar Indonesia. Masyarakat secara umum lebih menikmati keberadaan si kotak ajaib daripada budaya nenek moyang nya. Dampak nya tidak terlihat secara langsung, namun akan tampak ketika munculnya generasi-generasi yang seharusnya menjadi pewaris budaya ini.
Semakin lama budaya memang akan tergantikan dengan yang baru, karena budaya merupakan hasil cipta karsa manusia. Namun tidak langsung kemudian melupakan budaya yang sudah kita miliki. Untuk melestarikan budaya Indonesia diperlukan pengenalan budaya sejak dini. Itulah mengapa, sering kata budaya diikuti dengan kata pendidikan atau sebaliknya. Karena keduanya memiliki hubungan erat yang saling berkaitan. Tidak ada salahnya pengenalan budaya dilangsungkan di dunia pendidikan formal. Karena sejatinya kebudayaan didapatkan oleh seluruh anggota masyarakat. Mulai dari pengetahuan, kepercayaan, moral, kesenian, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain. Budaya mulai bisa dikenalkan melalui aktifitas ekstrakulikuler di sekolah, seperti mengukir, atau sanggar tari. Seperti kita tahu bahwa ukir adalah budaya Indonesia yang ada di Jepara.
Leluhur kita telah banyak mewariskan kebudayaan yang tinggi harganya, semisal tata krama, gotong royong, budaya adiluhur, dan lain sebagainya. Dan penulis selalu berharap budaya tersebut dapat tetap melekat dengan masyarakat Indonesia walaupun era sudah berubah sejauh ini. Dan budaya-budaya yang tidak ternilai jumlahnya ini ketika hanya menjadi konsumsi masyarakat kita, maka fungsinya tidak seberapa banyak. Namun jika itu semua kita kenalkan ke dunia internasional, sedikit banyak menambahkan fungsi budaya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Seperti apakah baiknya untuk mengawali proyek besar ini?. Sangat dibutuhkan peran dari seluruh elemen yang ada di Indonesia maupun yang sedang mejadi duta di luar negeri. Karena tanpa kerjasama yang baik, budaya Indonesia yang kaya ini sulit untuk sekedar dikenal orang. Harus ada kesadaran dari setiap diri untuk saling bahu membahu mengenalkan budaya, tanpa ada rasa saling tunjuk yang sekarang mulai membudaya di lingkungan kita. Cobalah untuk mengenal dan memiliki budaya, karena budaya adalah cerminan suatu bangsa. Jangan sampai kita luput dari mengenal dan rasa memiliki terhadap budaya sendiri, sehingga ketika muncul pengklaiman budaya bangsa, kita tak tahu apa-apa.
Penulis juga sedikit ingin mengutarakan konsep jemput bola. Jika ini dianggap sebagai teori lama setidaknya ada pembaharuan atas teori tersebut. Sebagai contohnya, Puskin(Pusat kebudayaan Indonesia) Kairo yang berafiliasi dengan KBRI Kairo mulai melakukan langkah ini. Banyak program yang diikuti oleh orang-orang Mesir, mulai dari pengusaha, guru, orang tua, pelajar, dan mahasiswa. Selain diadakan kelas bahasa Indonesia, Puskin juga mengajarkan beberapa tarian untuk pelajar Mesir, serta pencak silat melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Sebagaimana kita tahu bahwa pencak silat merupakan budaya Indonesia yang tidak hanya ada di pulau Jawa, bahkan di minang pun sudah sejak lama muncul budaya ini. Fakta dilapangan, bahwa orang-orang asing yang mempelajari budaya kita tersebut, mereka senang dan bangga atas apa yang mereka pelajari, sampai sebagian dari mereka melanjutkan studi di Indonesia, juga beberapa berkunjung karena ketertarikannya dengan budaya Indonesia yang menawan. Sulit rasanya jika hanya menunggu kelompok sosial diluar kita datang berduyun untuk mengenal seperti apakah Indonesia itu?, jika hanya menunggu yang kita andalkan, maka budaya dari Negara lain akan lebih dahulu sampai ke mereka, karena bukan hanya kita yang ingin mengenalkan kekayaan budaya bangsa.
Selain konsep tersebut diatas, pemanfaatan TI sangat dibutuhkan dalam merampungkan proyek besar yang menjadi tuntutan kita bersama. Kehidupan manusia modern lambat laun akan terbatas pada dunia maya, sesuai dengan apa yang kita lihat di lapangan. Anak kecil, remaja, dewasa, laki-laki, perempuan, semuanya tidak lepas dari pemakaian TI. Pemanfaatan melalui tulisan, website, blog, catatan, facebook, twitter, serta media sosial lainnya akan sangat baik hasilnya. Disamping murah, efisien, juga tidak memerlukan waktu banyak. Bahkan jika ada yang diberi kewenangan khusus untuk hal ini akan sangat baik hasilnya nanti. Tentunya mereka itu orang-orang yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang TI. Banyak anak bangsa yang mampu dan menguasai bidang ini, dan harapannya agar budaya Indonesia yang kaya ini banyak dikenal lingkup masyarakat yang lebih luas, antar negara, antar bangsa, dan antar benua sekalipun.
Budaya Indonesia yang berlimpah mampu bertahan sejauh ini karena masyarakat kita memiliki kearifan lokal yang bisa membuat mereka tetap eksis keberadaannya walaupun dalam suasana yang genting sekalipun. Hal ini patut kita syukuri dan kita banggakan, karena inilah Indonesia yang sebenarnya. Selain itu, rakyat Indonesia benar-benar loyal terhadap bangsanya sendiri. Masih ingat ketika Papua menyatakan bergabung dengan Indonesia setelah dilakukannya penentuan pendapat rakyat(Pepera) pada tahun 1969. Hal ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia memiliki loyalitas tanpa batas, bukan hanya di Jawa saja, bahkan diujung Papua sana pun demikian. Ini juga yang perlu kita jaga, bukan hanya budaya yang bersifat kesenian saja atau yang lainnya, namun budaya loyal terhadap bangsa sendiri juga demikian. Kerap hal ini terjadi kepada duta bangsa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, ketika selesai masa studinya akan dihadapkan pada pilihan pulang ke Indonesia untuk mengabdi pada ibu pertiwi atau tetap bertahan di Negara keduanya. Sejatinya kita sebagai bangsa Indonesia apabila lupa terhadap budaya sendiri atau melalaikannya bagaikan seorang yang korupsi terhadap kepemilikan Negara. Sungguh korupsi budaya yang seperti inilah yang mengikis jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Mulailah mengenal apa yang menjadi identitas kita, mulailah mengenal budaya negeri kita. Jangan sampai pewaris budaya tidak tahu kalau warisan nenek moyangnya sungguh sangat kaya dan beranekaragam. Korupsi budaya mengikis jati diri bangsa.
Pada akhirnya saya akan memberikan sedikit kesimpulan, bahwasannya dalam rangka melestarikan kekayaan budaya Indonesia ada beberapa hal yang harus selalu kita perhatikan. Yang pertama, tidak meremehkan budaya Indonesia. Sebab kita lihat akhir-akhir ini budaya Indonesia selalu mendapat cibiran maupun kata-kata sinis dari bangsanya sendiri. Mungkin karena ketidak puasan atau kekecewaan pada salah satu unsur Indonesia. Yang kedua, mempelajari budaya Indonesia. Tidak hanya terbatas pada belajar tarian ataupun seni musik daerah, namun juga mengenal sejarah munculnya budaya dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Yang ketiga, mengajak orang lain menuju budaya Indonesia. Ajaklah orang-orang terdekat disekeliling kita untuk belajar budaya Indonesia seperti kita, dan selalu menjaga budaya Indonesia tanpa mencelanya. Ketika satu komunitas sudah mampu untuk kita ajak bekerja sama, kita beralih menuju kelompok insan yang lain sehingga budaya Indonesia mampu tersebar ke berbagai penjuru. Tidak terbatas hanya pada bangsa sendiri namun juga terhadap bangsa lain.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Fakultas Ushuluddin – Universitas Al-Azhar
Esai diikutkan dalam lomba Gema Ilmiah Ankara


0 comments:

Pages