Indonesia
merupakan Negara yang kaya akan budaya. Dari ujung Sabang sampai Merauke
memiliki budaya yang berbeda-beda. Namun dengan keberanekaragaman budaya inilah
rakyat Indonesia mampu untuk belajar bagaimana menjadi makhluk sosial yang baik
tanpa merugikan sesamanya. Pun dalam toleransi antara sesama, rakyat Indonesia
banyak belajar dari multibudaya ini. Hal yang sering muncul di benak kita
adalah apakah kita sudah termasuk dalam kategori insan yang berbudaya?.
Pastinya akan sulit menjawab pertanyaan sederhana ini, karena setiap diri kita
banyak yang belum tahu barometernya.
Suatu kali Ki
hajar dewantoro pernah memberi pandangan tentang kebudayaan, bahwasanya
kebudayaan bagi beliau adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Tampak sekali
dengan sangat jelas bahwa kekayaan kebudayaan Indonesia tidak akan ada tanpa
sumbangsih dari budaya-budaya daerah. Dan beruntung sekali kita bisa terlahir
dari masyarakat yang berbudaya, Indonesia tentunya. Dimana sebagian populasi
sosial banyak yang tidak memiliki kebudayaan dalam mengawali dan meniti proses
bermasyarakat. Terbentang sepanjang kepulauan Indonesia sebanyak 17.508 pulau
serta 1.128 suku bangsa sungguh bukan sesuatu yang remeh. Anegerah Tuhan yang
sangat besar ini jatuh ke tangan Indonesia sebagai ibu pertiwi.
Teringat dengan
karya seorang ulama asal Damaskus yang berjudul fii anduunisia, beliau
menuliskan “Surga dunia itu bukan Syam, Lebanon, ataupun Swiss. Tapi surga
dunia itu adalah Jawa. Siapa yang pernah melihatnya akan tahu kalau aku berkata
benar, tapi bagi yang belum melihatnya maka penjelasan tak akan cukup untuk
menggambarkannya. Karena kabar berita itu tak seperti apa yang tersolok oleh
mata. Dua hari aku menjelajahinya. Selama 50 tahun dalam hidupku, aku tak
pernah menemukan rasa nyaman melebihi dua hari yang kulalui itu. Aku juga tak
pernah menemukan pemandangan yang lebih indah dan akan terus membekas dalam
hatiku melebihi apa yang kusaksikan selama dua hari itu. Dengan menggunakan
kereta kujelajahi pulau Jawa itu selama dua hari, dari barat hingga ke timur,
dari Jakarta hingga Surabaya, melewati jalan yang sebelumnya tak pernah kulihat
atau dengar, dan aku tak pernah menduga bahwa aku akan menyaksikan dan
mendengar sendiri bahwa di dunia ini ada jalan yang menyuguhkan keindahan
seperti jalan ini…” beliau pernah berkunjung ke Indonesia sekitar tahun
limapuluhan.
Kembali penulis
berfikir, itu baru serangkaian budaya yang kebetulan disinggahi oleh beliau,
dan masih dalam satu pulau pula. Belum lagi pulau-pulau lainnya yang
keindahannya bahkan tidak terlintas di benak kita. Hal ini membuktikan betapa
kayanya Indonesia dengan segala apa yang ada didalamnya. Terkhusus dengan
keanekaragaman budayanya, mulai dari ujung Aceh dengan Tari Rapa’i Geleng
hingga ujung Papua dengan Yosim Pancar nya.
Sekarang yang
menjadi problema adalah banyak dari masyarakat yang kurang peduli dengan budaya
yang dimilikinya, ditambah lagi dengan malu terhadap budaya sendiri yang
terlihat kuno atau tidak mengikuti zaman. Hal ini berawal dari rakyat Indonesia
yang banyak tidak mengenal kebudayaan yang sudah ada disekitarnya. Seperti kata
seorang pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ada benarnya juga ungkapan
tersebut, bahwa berawal dari tidak mengenal kebudayaan milik bangsanya sendiri,
tidak muncul rasa memiliki. Apa yang ingin dipromosikan jika mengenal pun
tidak?.
Gangguan eksternal
pun tidak luput dari lingkup masyarakat kita. Televisi menjadi faktor yang
paling berpengaruh terhadap hubungan mereka dengan budaya. Terbukti 95% rumah
tangga kelas menengah mempunyai televisi. Hal ini berdasarkan hasil survey
perusahaan riset media, Nielsen Indonesia, yang dilakukan di Sembilan kota
besar Indonesia. Masyarakat secara umum lebih menikmati keberadaan si kotak
ajaib daripada budaya nenek moyang nya. Dampak nya tidak terlihat secara
langsung, namun akan tampak ketika munculnya generasi-generasi yang seharusnya
menjadi pewaris budaya ini.
Semakin lama
budaya memang akan tergantikan dengan yang baru, karena budaya merupakan hasil
cipta karsa manusia. Namun tidak langsung kemudian melupakan budaya yang sudah
kita miliki. Untuk melestarikan budaya Indonesia diperlukan pengenalan budaya
sejak dini. Itulah mengapa, sering kata budaya diikuti dengan kata pendidikan
atau sebaliknya. Karena keduanya memiliki hubungan erat yang saling berkaitan.
Tidak ada salahnya pengenalan budaya dilangsungkan di dunia pendidikan formal.
Karena sejatinya kebudayaan didapatkan oleh seluruh anggota masyarakat. Mulai
dari pengetahuan, kepercayaan, moral, kesenian, hukum, adat istiadat, dan
kemampuan-kemampuan lain. Budaya mulai bisa dikenalkan melalui aktifitas
ekstrakulikuler di sekolah, seperti mengukir, atau sanggar tari. Seperti kita
tahu bahwa ukir adalah budaya Indonesia yang ada di Jepara.
Leluhur kita
telah banyak mewariskan kebudayaan yang tinggi harganya, semisal tata krama,
gotong royong, budaya adiluhur, dan lain sebagainya. Dan penulis selalu
berharap budaya tersebut dapat tetap melekat dengan masyarakat Indonesia
walaupun era sudah berubah sejauh ini. Dan budaya-budaya yang tidak ternilai
jumlahnya ini ketika hanya menjadi konsumsi masyarakat kita, maka fungsinya
tidak seberapa banyak. Namun jika itu semua kita kenalkan ke dunia
internasional, sedikit banyak menambahkan fungsi budaya untuk mengangkat harkat
dan martabat bangsa Indonesia.
Seperti apakah
baiknya untuk mengawali proyek besar ini?. Sangat dibutuhkan peran dari seluruh
elemen yang ada di Indonesia maupun yang sedang mejadi duta di luar negeri. Karena
tanpa kerjasama yang baik, budaya Indonesia yang kaya ini sulit untuk sekedar
dikenal orang. Harus ada kesadaran dari setiap diri untuk saling bahu membahu
mengenalkan budaya, tanpa ada rasa saling tunjuk yang sekarang mulai membudaya
di lingkungan kita. Cobalah untuk mengenal dan memiliki budaya, karena budaya
adalah cerminan suatu bangsa. Jangan sampai kita luput dari mengenal dan rasa
memiliki terhadap budaya sendiri, sehingga ketika muncul pengklaiman budaya bangsa,
kita tak tahu apa-apa.
Penulis juga
sedikit ingin mengutarakan konsep jemput bola. Jika ini dianggap sebagai teori
lama setidaknya ada pembaharuan atas teori tersebut. Sebagai contohnya,
Puskin(Pusat kebudayaan Indonesia) Kairo yang berafiliasi dengan KBRI Kairo mulai
melakukan langkah ini. Banyak program yang diikuti oleh orang-orang Mesir,
mulai dari pengusaha, guru, orang tua, pelajar, dan mahasiswa. Selain diadakan kelas
bahasa Indonesia, Puskin juga mengajarkan beberapa tarian untuk pelajar Mesir, serta
pencak silat melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Sebagaimana kita tahu
bahwa pencak silat merupakan budaya Indonesia yang tidak hanya ada di pulau
Jawa, bahkan di minang pun sudah sejak lama muncul budaya ini. Fakta
dilapangan, bahwa orang-orang asing yang mempelajari budaya kita tersebut,
mereka senang dan bangga atas apa yang mereka pelajari, sampai sebagian dari
mereka melanjutkan studi di Indonesia, juga beberapa berkunjung karena
ketertarikannya dengan budaya Indonesia yang menawan. Sulit rasanya jika hanya
menunggu kelompok sosial diluar kita datang berduyun untuk mengenal seperti
apakah Indonesia itu?, jika hanya menunggu yang kita andalkan, maka budaya dari
Negara lain akan lebih dahulu sampai ke mereka, karena bukan hanya kita yang
ingin mengenalkan kekayaan budaya bangsa.
Selain konsep tersebut
diatas, pemanfaatan TI sangat dibutuhkan dalam merampungkan proyek besar yang
menjadi tuntutan kita bersama. Kehidupan manusia modern lambat laun akan
terbatas pada dunia maya, sesuai dengan apa yang kita lihat di lapangan. Anak
kecil, remaja, dewasa, laki-laki, perempuan, semuanya tidak lepas dari
pemakaian TI. Pemanfaatan melalui tulisan, website, blog, catatan, facebook,
twitter, serta media sosial lainnya akan sangat baik hasilnya. Disamping murah,
efisien, juga tidak memerlukan waktu banyak. Bahkan jika ada yang diberi
kewenangan khusus untuk hal ini akan sangat baik hasilnya nanti. Tentunya mereka
itu orang-orang yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang TI. Banyak anak
bangsa yang mampu dan menguasai bidang ini, dan harapannya agar budaya
Indonesia yang kaya ini banyak dikenal lingkup masyarakat yang lebih luas,
antar negara, antar bangsa, dan antar benua sekalipun.
Budaya
Indonesia yang berlimpah mampu bertahan sejauh ini karena masyarakat kita
memiliki kearifan lokal yang bisa membuat mereka tetap eksis keberadaannya
walaupun dalam suasana yang genting sekalipun. Hal ini patut kita syukuri dan kita
banggakan, karena inilah Indonesia yang sebenarnya. Selain itu, rakyat
Indonesia benar-benar loyal terhadap bangsanya sendiri. Masih ingat ketika
Papua menyatakan bergabung dengan Indonesia setelah dilakukannya penentuan
pendapat rakyat(Pepera) pada tahun 1969. Hal ini membuktikan bahwa rakyat
Indonesia memiliki loyalitas tanpa batas, bukan hanya di Jawa saja, bahkan
diujung Papua sana pun demikian. Ini juga yang perlu kita jaga, bukan hanya
budaya yang bersifat kesenian saja atau yang lainnya, namun budaya loyal
terhadap bangsa sendiri juga demikian. Kerap hal ini terjadi kepada duta bangsa
yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, ketika selesai masa studinya akan
dihadapkan pada pilihan pulang ke Indonesia untuk mengabdi pada ibu pertiwi
atau tetap bertahan di Negara keduanya. Sejatinya kita sebagai bangsa Indonesia
apabila lupa terhadap budaya sendiri atau melalaikannya bagaikan seorang yang
korupsi terhadap kepemilikan Negara. Sungguh korupsi budaya yang seperti inilah
yang mengikis jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Mulailah mengenal apa yang
menjadi identitas kita, mulailah mengenal budaya negeri kita. Jangan sampai
pewaris budaya tidak tahu kalau warisan nenek moyangnya sungguh sangat kaya dan
beranekaragam. Korupsi budaya mengikis jati diri bangsa.
Pada akhirnya
saya akan memberikan sedikit kesimpulan, bahwasannya dalam rangka melestarikan
kekayaan budaya Indonesia ada beberapa hal yang harus selalu kita perhatikan.
Yang pertama, tidak meremehkan budaya Indonesia. Sebab kita lihat akhir-akhir
ini budaya Indonesia selalu mendapat cibiran maupun kata-kata sinis dari
bangsanya sendiri. Mungkin karena ketidak puasan atau kekecewaan pada salah
satu unsur Indonesia. Yang kedua, mempelajari budaya Indonesia. Tidak hanya
terbatas pada belajar tarian ataupun seni musik daerah, namun juga mengenal
sejarah munculnya budaya dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Jangan
sekali-kali melupakan sejarah. Yang ketiga, mengajak orang lain menuju budaya
Indonesia. Ajaklah orang-orang terdekat disekeliling kita untuk belajar budaya
Indonesia seperti kita, dan selalu menjaga budaya Indonesia tanpa mencelanya.
Ketika satu komunitas sudah mampu untuk kita ajak bekerja sama, kita beralih
menuju kelompok insan yang lain sehingga budaya Indonesia mampu tersebar ke
berbagai penjuru. Tidak terbatas hanya pada bangsa sendiri namun juga terhadap
bangsa lain.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Fakultas Ushuluddin – Universitas Al-Azhar
Esai diikutkan dalam lomba Gema Ilmiah Ankara
Esai diikutkan dalam lomba Gema Ilmiah Ankara