Kesabaran Penuntut Ilmu

Kamis, 06 Maret 2014 0 comments
       Sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari nasihat yang berkaitan dengan kesabaran. Tidak jarang nasihat-nasihat tersebut ditujukan kepada diri kita, terkhusus dari orang-orang terdekata kita. “Sing sabar yo le . .” yang sabar ya nak. Bahkan kita sendiri seolah dibuat bosan dengan seruan untuk bersabar. Apa sih sebenarnya makna besar dibalik kesabaran?

        Masih ingat dengan kisah kesabaran nabi Ayyub ‘alaihissalam? Atau kisah nabi kita sendiri Muhammad s.a.w yang tetap sabar walau kaum kafir Quraisy memusuhinya semua. Tentunya diantara kita sudah membaca berbagai kisah tersebut yang memang diriwayatkan kepada kita. Bahkan tidak hanya membaca, namun juga menelaah hikmah-hikmah yang termuat didalamnya. Bahkan jauh sebelum kata dewasa tersematkan pada diri kita, mulai dari bangku sekolah dasar atau sekolah agama di kampong. Sebenarnya yang sedikit ini sudah menunjukkan bahwa kita sudah banyak belajar sabar dari dulu, jadi tidak usah berpanjang kata untuk menjelaskan apa itu sabar yang sebenarnya.

            Nasihat yang selalu mengalir untuk selalu sabar dalam segala apa yang terjadi kepada kita, atau pada setiap proses yang terjadi kepada kita mungkin malah muncul bukan dari seorang tokoh agama atau para ‘ulama di tempat kita, namun muncul dari mulut-mulut sebagian orang yang kita anggap tidak berpendidikan. Namun bukan main, terkadang sungguh mujarab nasihat tersebut hingga mampu menjadikan seseorang melewati masa kritisnya atau melalui rintangan beratnya dalam sebuah proses. Karena tidak ada batasan siapa yang boleh memberi nasihat dalam kesabaran ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat al ‘asr ayat terahir
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Yang artinya : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Dalam ayat tersebut dijelaskan orang-orang yang tidak akan merugi dalam kehidupannya, setelah dijelaskan bahwa sesungguhnya Manusia akan merugi pada ayat sebelumnya. Dan kita berharap serta memohon kepada Allah untuk dimasukkan kedalam golongan yang disebutkan dalam ayat terahir surat al ‘asr.
            Kali ini penulis akan sedikit mengaitkan antara kesabaran dengan para Thaalibul ‘ilmi yang memang sungguh sangat erat kaitan antara keduanya. Karena memang dalam belajar sesuatu terlebih mempelajari materi-materi yang bermuatan agama memang dibutuhkan modal sabar yang besar. Akan ditemui di setiap tingkatannya beberapa ujian dan hambatan yang memang lazim didapati oleh seorang penuntut ilmu. Dan disinilah nanti akan diuji seberapa besar kesabarannya dan apakah akan mampu melewati ujain tersebut atau terhempas menjadi seorang pelajar dengan status K.O.

            Masih ingat dengan kisah nabi Musa ‘alaihissalam ketika Allah perintahkan untuk bertemu dengan dengan nabi Khidr? Kisah ini tertulis dalam surat al kahfi yang disunnahkan untuk dibaca setiap malam jum’at atau hari jum’at. Dalam kisah tersebut diceritakan nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada seorang nabi yang bernama Khidr. Dalam perjalanannya melakukan sebuah pembelajaran bersama nabi Khidr beliau mendapatkan syarat untuk tidak mempertanyakan apa-apa yang dilakukan oleh nabi Khidr. Namun akhirnya pada setiap kejadian yang terjadi, nabi Musa tidak mampu untuk bersabar atas apa yang dilihatnya, dan selalu menanyakan penyebab kenapa hal tersebut berlaku atau terjadi di depannya. Hingga kemudian nabi Musa gagal melakukan proses pembelajaran yang sudah ditetapkan atasnya.

            Kita lihat dengan sendiri, penuntut ilmu sekelas Musa ‘alaihissalam saja berat menempuh sebuah proses yang terjadi dimana erat sekali kaitannya dengan sabar, bagaimana dengan kita yang hanya seorang insan biasa yang tiada keistimewaan sedikitpun. Namun hal ini seharusnya menjadi alasan bagi setiap thaalibul ‘ilm untuk selalu berusaha sebaik mungkin untuk mampu bersabar dalam masa belajarnya, atau menjadikannya untuk selalu memperbaharui apa yang menjadi tujuannya dalam mengarungi bahtera ilmu.

            Sedikit apa yang bisa penulis sampaikan kepada teman-teman sekalian dalam melalui proses belajarnya dengan kesabaran yaitu belajar mengambil hikmah dari setiap hal yang membutuhkan kesabaran dari diri kita masing-masing. Karena hal itu mampu dijadikan guru bagi setiap individu, seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik. Setiap hal yang kita lalui dengan penuh kesabaran akan menjadi pengalaman bagi kita bahkan tidak terlupakan terkadang. Satu lagi yang perlu diingat, bahwa kesabaran mesti dibarengi dengan keikhlasan. Bagai kepingan mata uang, antara yang satu dengan yang lain tidak akan terpisahkan dan akan selalu bersama. Teringat sebuah tanyangan di televisi, ada seorang pemuda mendatangi rumah seorang wanita untuk dia pinang. Kemudian disambut oleh sang Ayah wanita dengan sesuatu yang berbeda, diberikanlah sebuah persyaratan kepada pemuda tadi sebelum ia boleh meminang anak gadisnya. Sang pemuda diminta untuk mempelajari ilmu ikhlas, dan ia dibuat bingung sendiri karena tidak tahu harus belajar dengan siapa mengenai ilmu ikhlas ini.

            Ibroh yang bisa dipetik dari kisah seorang pemuda tadi ialah mengenai keikhlasan yang menjadi titik beratnya. Keikhlasan hanya ada dalam hati setiap masing-masing kita, dan tidak akan ada barometer yang kasat mata dalam mengukur ikhlas. Hubungan antara kesabaran dan keikhlasan inilah yang menjadi rumus sukses perjalanan para penuntut ilmu, dan menjadi sesuatu yang mujarab untuk dilakukan oleh orang-orang yang ingin menuai kata sukses dalam akhir proses yang dihadapinya. Dan kita semua berharap semoga Allah selalu menjadikan kita termasuk dalam orang-orang yang selalu bersabar dan ikhlas dalam semua aktifitas kita maupun segala hal yang terjadi pada diri kita.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Untuk syarat beasiswa BWAKM bulan Maret

Hati-hati dengan bersin

Senin, 10 Februari 2014 0 comments
Kisah Paman kami KH AL-Ny. Hj. SNA, Kedunglumpang, Salaman, Magelang.
Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an; pemuda itu bersin di kursinya. Dia pun bertahmid, “Alhamdulillah.”
Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas, “YarhamukaLlah.”
Maka dia pun menjawab, “YahdikumuLlah, wa yushlihu baalakum”, lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.
Ini tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah. Dan ucapan “YarhamukaLlah” adalah ilmu yang langka. Keduanya terasa surgawi.
Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu. “Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya.”
Gadis itu terkejut. “Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.
“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah.”
Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat.
“Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda.
Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya.
Setelah dipersilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa & ada perlu apa?”
Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata, “Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”
“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”
“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”
“Lho Nak”, ujar si Bapak, “Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”
“BismiLlah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah.”
“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?”
“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir.
Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak.
“Sebentar Nak”, kata si Bapak, “Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”
Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.
Sang bapak mengangguk-angguk. “Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?”
Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu.
Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi. Maharnya? Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi istrinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.
Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri. Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.
Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.
“Salim”, ujarnya pada suatu hari, “Bibi’mu ini lho, cuma saya bersin-i saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!”
Saya terkekeh. Dan lebih terbahak ketika ‘ saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri, “Mungkin beliau jadi sopir saya!”
Ya Allah; jagalah mereka, sebab mereka menjaga Kitab-Mu di sebuah pesantren…

Sumber : Dari seorang teman

Budaya itu milik siapa?

Rabu, 15 Januari 2014 0 comments
Indonesia merupakan Negara yang kaya akan budaya. Dari ujung Sabang sampai Merauke memiliki budaya yang berbeda-beda. Namun dengan keberanekaragaman budaya inilah rakyat Indonesia mampu untuk belajar bagaimana menjadi makhluk sosial yang baik tanpa merugikan sesamanya. Pun dalam toleransi antara sesama, rakyat Indonesia banyak belajar dari multibudaya ini. Hal yang sering muncul di benak kita adalah apakah kita sudah termasuk dalam kategori insan yang berbudaya?. Pastinya akan sulit menjawab pertanyaan sederhana ini, karena setiap diri kita banyak yang belum tahu barometernya.
Suatu kali Ki hajar dewantoro pernah memberi pandangan tentang kebudayaan, bahwasanya kebudayaan bagi beliau adalah “puncak-puncak dari kebudayaan daerah”. Tampak sekali dengan sangat jelas bahwa kekayaan kebudayaan Indonesia tidak akan ada tanpa sumbangsih dari budaya-budaya daerah. Dan beruntung sekali kita bisa terlahir dari masyarakat yang berbudaya, Indonesia tentunya. Dimana sebagian populasi sosial banyak yang tidak memiliki kebudayaan dalam mengawali dan meniti proses bermasyarakat. Terbentang sepanjang kepulauan Indonesia sebanyak 17.508 pulau serta 1.128 suku bangsa sungguh bukan sesuatu yang remeh. Anegerah Tuhan yang sangat besar ini jatuh ke tangan Indonesia sebagai ibu pertiwi.
Teringat dengan karya seorang ulama asal Damaskus yang berjudul fii anduunisia, beliau menuliskan “Surga dunia itu bukan Syam, Lebanon, ataupun Swiss. Tapi surga dunia itu adalah Jawa. Siapa yang pernah melihatnya akan tahu kalau aku berkata benar, tapi bagi yang belum melihatnya maka penjelasan tak akan cukup untuk menggambarkannya. Karena kabar berita itu tak seperti apa yang tersolok oleh mata. Dua hari aku menjelajahinya. Selama 50 tahun dalam hidupku, aku tak pernah menemukan rasa nyaman melebihi dua hari yang kulalui itu. Aku juga tak pernah menemukan pemandangan yang lebih indah dan akan terus membekas dalam hatiku melebihi apa yang kusaksikan selama dua hari itu. Dengan menggunakan kereta kujelajahi pulau Jawa itu selama dua hari, dari barat hingga ke timur, dari Jakarta hingga Surabaya, melewati jalan yang sebelumnya tak pernah kulihat atau dengar, dan aku tak pernah menduga bahwa aku akan menyaksikan dan mendengar sendiri bahwa di dunia ini ada jalan yang menyuguhkan keindahan seperti jalan ini…” beliau pernah berkunjung ke Indonesia sekitar tahun limapuluhan.
Kembali penulis berfikir, itu baru serangkaian budaya yang kebetulan disinggahi oleh beliau, dan masih dalam satu pulau pula. Belum lagi pulau-pulau lainnya yang keindahannya bahkan tidak terlintas di benak kita. Hal ini membuktikan betapa kayanya Indonesia dengan segala apa yang ada didalamnya. Terkhusus dengan keanekaragaman budayanya, mulai dari ujung Aceh dengan Tari Rapa’i Geleng hingga ujung Papua dengan Yosim Pancar nya.
Sekarang yang menjadi problema adalah banyak dari masyarakat yang kurang peduli dengan budaya yang dimilikinya, ditambah lagi dengan malu terhadap budaya sendiri yang terlihat kuno atau tidak mengikuti zaman. Hal ini berawal dari rakyat Indonesia yang banyak tidak mengenal kebudayaan yang sudah ada disekitarnya. Seperti kata seorang pepatah, tak kenal maka tak sayang. Ada benarnya juga ungkapan tersebut, bahwa berawal dari tidak mengenal kebudayaan milik bangsanya sendiri, tidak muncul rasa memiliki. Apa yang ingin dipromosikan jika mengenal pun tidak?.
Gangguan eksternal pun tidak luput dari lingkup masyarakat kita. Televisi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap hubungan mereka dengan budaya. Terbukti 95% rumah tangga kelas menengah mempunyai televisi. Hal ini berdasarkan hasil survey perusahaan riset media, Nielsen Indonesia, yang dilakukan di Sembilan kota besar Indonesia. Masyarakat secara umum lebih menikmati keberadaan si kotak ajaib daripada budaya nenek moyang nya. Dampak nya tidak terlihat secara langsung, namun akan tampak ketika munculnya generasi-generasi yang seharusnya menjadi pewaris budaya ini.
Semakin lama budaya memang akan tergantikan dengan yang baru, karena budaya merupakan hasil cipta karsa manusia. Namun tidak langsung kemudian melupakan budaya yang sudah kita miliki. Untuk melestarikan budaya Indonesia diperlukan pengenalan budaya sejak dini. Itulah mengapa, sering kata budaya diikuti dengan kata pendidikan atau sebaliknya. Karena keduanya memiliki hubungan erat yang saling berkaitan. Tidak ada salahnya pengenalan budaya dilangsungkan di dunia pendidikan formal. Karena sejatinya kebudayaan didapatkan oleh seluruh anggota masyarakat. Mulai dari pengetahuan, kepercayaan, moral, kesenian, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain. Budaya mulai bisa dikenalkan melalui aktifitas ekstrakulikuler di sekolah, seperti mengukir, atau sanggar tari. Seperti kita tahu bahwa ukir adalah budaya Indonesia yang ada di Jepara.
Leluhur kita telah banyak mewariskan kebudayaan yang tinggi harganya, semisal tata krama, gotong royong, budaya adiluhur, dan lain sebagainya. Dan penulis selalu berharap budaya tersebut dapat tetap melekat dengan masyarakat Indonesia walaupun era sudah berubah sejauh ini. Dan budaya-budaya yang tidak ternilai jumlahnya ini ketika hanya menjadi konsumsi masyarakat kita, maka fungsinya tidak seberapa banyak. Namun jika itu semua kita kenalkan ke dunia internasional, sedikit banyak menambahkan fungsi budaya untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Seperti apakah baiknya untuk mengawali proyek besar ini?. Sangat dibutuhkan peran dari seluruh elemen yang ada di Indonesia maupun yang sedang mejadi duta di luar negeri. Karena tanpa kerjasama yang baik, budaya Indonesia yang kaya ini sulit untuk sekedar dikenal orang. Harus ada kesadaran dari setiap diri untuk saling bahu membahu mengenalkan budaya, tanpa ada rasa saling tunjuk yang sekarang mulai membudaya di lingkungan kita. Cobalah untuk mengenal dan memiliki budaya, karena budaya adalah cerminan suatu bangsa. Jangan sampai kita luput dari mengenal dan rasa memiliki terhadap budaya sendiri, sehingga ketika muncul pengklaiman budaya bangsa, kita tak tahu apa-apa.
Penulis juga sedikit ingin mengutarakan konsep jemput bola. Jika ini dianggap sebagai teori lama setidaknya ada pembaharuan atas teori tersebut. Sebagai contohnya, Puskin(Pusat kebudayaan Indonesia) Kairo yang berafiliasi dengan KBRI Kairo mulai melakukan langkah ini. Banyak program yang diikuti oleh orang-orang Mesir, mulai dari pengusaha, guru, orang tua, pelajar, dan mahasiswa. Selain diadakan kelas bahasa Indonesia, Puskin juga mengajarkan beberapa tarian untuk pelajar Mesir, serta pencak silat melalui Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Sebagaimana kita tahu bahwa pencak silat merupakan budaya Indonesia yang tidak hanya ada di pulau Jawa, bahkan di minang pun sudah sejak lama muncul budaya ini. Fakta dilapangan, bahwa orang-orang asing yang mempelajari budaya kita tersebut, mereka senang dan bangga atas apa yang mereka pelajari, sampai sebagian dari mereka melanjutkan studi di Indonesia, juga beberapa berkunjung karena ketertarikannya dengan budaya Indonesia yang menawan. Sulit rasanya jika hanya menunggu kelompok sosial diluar kita datang berduyun untuk mengenal seperti apakah Indonesia itu?, jika hanya menunggu yang kita andalkan, maka budaya dari Negara lain akan lebih dahulu sampai ke mereka, karena bukan hanya kita yang ingin mengenalkan kekayaan budaya bangsa.
Selain konsep tersebut diatas, pemanfaatan TI sangat dibutuhkan dalam merampungkan proyek besar yang menjadi tuntutan kita bersama. Kehidupan manusia modern lambat laun akan terbatas pada dunia maya, sesuai dengan apa yang kita lihat di lapangan. Anak kecil, remaja, dewasa, laki-laki, perempuan, semuanya tidak lepas dari pemakaian TI. Pemanfaatan melalui tulisan, website, blog, catatan, facebook, twitter, serta media sosial lainnya akan sangat baik hasilnya. Disamping murah, efisien, juga tidak memerlukan waktu banyak. Bahkan jika ada yang diberi kewenangan khusus untuk hal ini akan sangat baik hasilnya nanti. Tentunya mereka itu orang-orang yang sudah ahli dan berpengalaman dalam bidang TI. Banyak anak bangsa yang mampu dan menguasai bidang ini, dan harapannya agar budaya Indonesia yang kaya ini banyak dikenal lingkup masyarakat yang lebih luas, antar negara, antar bangsa, dan antar benua sekalipun.
Budaya Indonesia yang berlimpah mampu bertahan sejauh ini karena masyarakat kita memiliki kearifan lokal yang bisa membuat mereka tetap eksis keberadaannya walaupun dalam suasana yang genting sekalipun. Hal ini patut kita syukuri dan kita banggakan, karena inilah Indonesia yang sebenarnya. Selain itu, rakyat Indonesia benar-benar loyal terhadap bangsanya sendiri. Masih ingat ketika Papua menyatakan bergabung dengan Indonesia setelah dilakukannya penentuan pendapat rakyat(Pepera) pada tahun 1969. Hal ini membuktikan bahwa rakyat Indonesia memiliki loyalitas tanpa batas, bukan hanya di Jawa saja, bahkan diujung Papua sana pun demikian. Ini juga yang perlu kita jaga, bukan hanya budaya yang bersifat kesenian saja atau yang lainnya, namun budaya loyal terhadap bangsa sendiri juga demikian. Kerap hal ini terjadi kepada duta bangsa yang sedang menuntut ilmu di luar negeri, ketika selesai masa studinya akan dihadapkan pada pilihan pulang ke Indonesia untuk mengabdi pada ibu pertiwi atau tetap bertahan di Negara keduanya. Sejatinya kita sebagai bangsa Indonesia apabila lupa terhadap budaya sendiri atau melalaikannya bagaikan seorang yang korupsi terhadap kepemilikan Negara. Sungguh korupsi budaya yang seperti inilah yang mengikis jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Mulailah mengenal apa yang menjadi identitas kita, mulailah mengenal budaya negeri kita. Jangan sampai pewaris budaya tidak tahu kalau warisan nenek moyangnya sungguh sangat kaya dan beranekaragam. Korupsi budaya mengikis jati diri bangsa.
Pada akhirnya saya akan memberikan sedikit kesimpulan, bahwasannya dalam rangka melestarikan kekayaan budaya Indonesia ada beberapa hal yang harus selalu kita perhatikan. Yang pertama, tidak meremehkan budaya Indonesia. Sebab kita lihat akhir-akhir ini budaya Indonesia selalu mendapat cibiran maupun kata-kata sinis dari bangsanya sendiri. Mungkin karena ketidak puasan atau kekecewaan pada salah satu unsur Indonesia. Yang kedua, mempelajari budaya Indonesia. Tidak hanya terbatas pada belajar tarian ataupun seni musik daerah, namun juga mengenal sejarah munculnya budaya dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Yang ketiga, mengajak orang lain menuju budaya Indonesia. Ajaklah orang-orang terdekat disekeliling kita untuk belajar budaya Indonesia seperti kita, dan selalu menjaga budaya Indonesia tanpa mencelanya. Ketika satu komunitas sudah mampu untuk kita ajak bekerja sama, kita beralih menuju kelompok insan yang lain sehingga budaya Indonesia mampu tersebar ke berbagai penjuru. Tidak terbatas hanya pada bangsa sendiri namun juga terhadap bangsa lain.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Fakultas Ushuluddin – Universitas Al-Azhar
Esai diikutkan dalam lomba Gema Ilmiah Ankara


Pages