Sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari nasihat yang
berkaitan dengan kesabaran. Tidak jarang nasihat-nasihat tersebut ditujukan
kepada diri kita, terkhusus dari orang-orang terdekata kita. “Sing sabar yo
le . .” yang sabar ya nak. Bahkan kita sendiri seolah dibuat bosan dengan
seruan untuk bersabar. Apa sih sebenarnya makna besar dibalik kesabaran?
Masih ingat dengan kisah kesabaran
nabi Ayyub ‘alaihissalam? Atau kisah nabi kita sendiri Muhammad s.a.w yang
tetap sabar walau kaum kafir Quraisy memusuhinya semua. Tentunya diantara kita
sudah membaca berbagai kisah tersebut yang memang diriwayatkan kepada kita.
Bahkan tidak hanya membaca, namun juga menelaah hikmah-hikmah yang termuat
didalamnya. Bahkan jauh sebelum kata dewasa tersematkan pada diri kita, mulai
dari bangku sekolah dasar atau sekolah agama di kampong. Sebenarnya yang
sedikit ini sudah menunjukkan bahwa kita sudah banyak belajar sabar dari dulu,
jadi tidak usah berpanjang kata untuk menjelaskan apa itu sabar yang
sebenarnya.
Nasihat yang selalu mengalir untuk
selalu sabar dalam segala apa yang terjadi kepada kita, atau pada setiap proses
yang terjadi kepada kita mungkin malah muncul bukan dari seorang tokoh agama
atau para ‘ulama di tempat kita, namun muncul dari mulut-mulut sebagian orang
yang kita anggap tidak berpendidikan. Namun bukan main, terkadang
sungguh mujarab nasihat tersebut hingga mampu menjadikan seseorang melewati
masa kritisnya atau melalui rintangan beratnya dalam sebuah proses. Karena tidak
ada batasan siapa yang boleh memberi nasihat dalam kesabaran ini. Allah ‘azza
wa jalla berfirman dalam surat al ‘asr ayat terahir
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Yang artinya : kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati
kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.
Dalam
ayat tersebut dijelaskan orang-orang yang tidak akan merugi dalam
kehidupannya, setelah dijelaskan bahwa sesungguhnya Manusia akan merugi pada
ayat sebelumnya. Dan kita berharap serta memohon kepada Allah untuk dimasukkan
kedalam golongan yang disebutkan dalam ayat terahir surat al ‘asr.
Kali ini penulis akan sedikit
mengaitkan antara kesabaran dengan para Thaalibul ‘ilmi yang memang
sungguh sangat erat kaitan antara keduanya. Karena memang dalam belajar sesuatu
terlebih mempelajari materi-materi yang bermuatan agama memang dibutuhkan modal
sabar yang besar. Akan ditemui di setiap tingkatannya beberapa ujian dan
hambatan yang memang lazim didapati oleh seorang penuntut ilmu. Dan disinilah
nanti akan diuji seberapa besar kesabarannya dan apakah akan mampu melewati
ujain tersebut atau terhempas menjadi seorang pelajar dengan status K.O.
Masih ingat dengan kisah nabi Musa ‘alaihissalam
ketika Allah perintahkan untuk bertemu dengan dengan nabi Khidr? Kisah ini
tertulis dalam surat al kahfi yang disunnahkan untuk dibaca setiap malam jum’at
atau hari jum’at. Dalam kisah tersebut diceritakan nabi Musa diperintahkan
untuk belajar kepada seorang nabi yang bernama Khidr. Dalam perjalanannya
melakukan sebuah pembelajaran bersama nabi Khidr beliau mendapatkan syarat
untuk tidak mempertanyakan apa-apa yang dilakukan oleh nabi Khidr. Namun
akhirnya pada setiap kejadian yang terjadi, nabi Musa tidak mampu untuk
bersabar atas apa yang dilihatnya, dan selalu menanyakan penyebab kenapa hal
tersebut berlaku atau terjadi di depannya. Hingga kemudian nabi Musa gagal
melakukan proses pembelajaran yang sudah ditetapkan atasnya.
Kita lihat dengan sendiri, penuntut
ilmu sekelas Musa ‘alaihissalam saja berat menempuh sebuah proses yang
terjadi dimana erat sekali kaitannya dengan sabar, bagaimana dengan kita yang
hanya seorang insan biasa yang tiada keistimewaan sedikitpun. Namun hal ini
seharusnya menjadi alasan bagi setiap thaalibul ‘ilm untuk selalu
berusaha sebaik mungkin untuk mampu bersabar dalam masa belajarnya, atau
menjadikannya untuk selalu memperbaharui apa yang menjadi tujuannya dalam
mengarungi bahtera ilmu.
Sedikit apa yang bisa penulis
sampaikan kepada teman-teman sekalian dalam melalui proses belajarnya dengan
kesabaran yaitu belajar mengambil hikmah dari setiap hal yang membutuhkan
kesabaran dari diri kita masing-masing. Karena hal itu mampu dijadikan guru
bagi setiap individu, seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik.
Setiap hal yang kita lalui dengan penuh kesabaran akan menjadi pengalaman bagi
kita bahkan tidak terlupakan terkadang. Satu lagi yang perlu diingat, bahwa
kesabaran mesti dibarengi dengan keikhlasan. Bagai kepingan mata uang,
antara yang satu dengan yang lain tidak akan terpisahkan dan akan selalu
bersama. Teringat sebuah tanyangan di televisi, ada seorang pemuda mendatangi
rumah seorang wanita untuk dia pinang. Kemudian disambut oleh sang Ayah wanita
dengan sesuatu yang berbeda, diberikanlah sebuah persyaratan kepada pemuda tadi
sebelum ia boleh meminang anak gadisnya. Sang pemuda diminta untuk mempelajari
ilmu ikhlas, dan ia dibuat bingung sendiri karena tidak tahu harus belajar
dengan siapa mengenai ilmu ikhlas ini.
Ibroh yang bisa dipetik dari
kisah seorang pemuda tadi ialah mengenai keikhlasan yang menjadi titik
beratnya. Keikhlasan hanya ada dalam hati setiap masing-masing kita, dan tidak
akan ada barometer yang kasat mata dalam mengukur ikhlas. Hubungan antara
kesabaran dan keikhlasan inilah yang menjadi rumus sukses perjalanan para
penuntut ilmu, dan menjadi sesuatu yang mujarab untuk dilakukan oleh
orang-orang yang ingin menuai kata sukses dalam akhir proses yang dihadapinya.
Dan kita semua berharap semoga Allah selalu menjadikan kita termasuk dalam
orang-orang yang selalu bersabar dan ikhlas dalam semua aktifitas kita maupun
segala hal yang terjadi pada diri kita.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Untuk syarat beasiswa BWAKM bulan Maret