*Kehilangan atas kehilangan

Kamis, 27 September 2012 0 comments
Semua orang, sebahagia apapun hidupnya, manusiawi jika pernah sekali, dua kali, bahkan lebih mengalami kehilangan yg menyakitkan... Ada yg kehilangan harta kesayangan, seperti dompet, HP, kamera, motor, mobil, kucing, bunga... Ada yg kehilangan dokumen, macam KTP, passport, surat nikah, surat cerai... Ada yg kehilangan anggota keluarga, seperti ayah, ibu, suami, istr i, adik, kakak, teman... Ada yg kehilangan sesuatu yg lbh susah dijelaskan, seperti cinta, ketenangan, kenyamanan, harga diri, reputasi... Apapun bentuknya, kehilangan itu selalu kongkret... mulai dr secara fisik memang tidak ada lagi.. menatap ruangan kosong tempat benda itu dulu berada.. menatap kamar kosong tempat seseorang itu dulu sering bersenda-gurau... hingga secara jiwa... hati yg nelangsa, perasaan yg kosong, posisi yg tidak lg dihargai... sehingga menimbulkan rindu, marah, sedih, menangis, dsbgnya.... Lantas, sepanjang hidup kalian selama ini, kawan... kehilangan apakah yg membuat kalian merasa begitu sedih? Mari tepekur sejenak, mengingat2... lantas sebutkan dlm hati, kehilangan apa yg paliiinggg membuat kalian sedih? Jika tidak ada, maka mari kita rubah pertanyaannya: kehilangan apakah yg paliiingg kalian takutkan di masa depan?? Karena sy punya satu... di antara kehilangan HP, kehilangan kamera, dokumen, cinta, nama baik, ayah, teman terbaik, dan sebagainya... sy ternyata memiliki sebuah kehilangan yg amat menyesakkan, belum terjadi (atau jangan2 sudah terjadi); yg membuat sy takut sekaliiii... bukan, tentu saja bukan kehilangan yg lazim, yang biasa... sy sungguh takut kehilangan "kehilangan"... kehilangan perasaan "kehilangan" itu sendiri... Tidak mengerti? Sama sy juga awalnya tidak mengerti kalimat aneh (meski bijak ini); membuat sy mikirr lamaa... padahal sejatinya, banyaaak sekali orang yg tidak tahu, tidak sadar, kalau dia sebenarnya telah: kehilangan perasaan "kehilangan" tersebut... tidak peduli; merasa semua baik2 saja... Kita kehilangan momen2 indah bersama keluarga; kasih-sayang kepada orang-tua; kedekatan... sibuk dgn hidup, rutinitas, dan teman2 baru yg boleh jd itu tidak hakiki... kehilangan saat2 menyenangkan saat bicara dgn ayah, ibu, adik, kakak... bercengkerama... kita sesungguh kehilangan, tp tidak tahu kalau kita telah kehilangan perasaan "kehilangan" tersebut... Kita kehilangan menikmati setiap detik nikmat hidup yg diberikan... setiap tarikan nafas... berdirilah di busway, atau bus2... ketika pagi tiba, tataplah deretan gedung2 tinggi.... apakah akan kita biarkan rutinitas menikam waktu, membiarkan kita tdk peduli ternyata betapa indahnya siluet dinding2 beton berlapis kaca... menatap aktivitas pengamen.. tukang asongan... kondektur yg membunyikan kerenceng uang logam di tangannya... tersenyum kepada orang di sebelah kita... kita tahu persis semua itu luar-biasa.. tp kita membiarkannya hilang.. kita kehilangan perasaan "kehilangan"... Dan di atas segalanya... ya Allah.. jangan sampai hamba tidak menyadari kalau hamba telah kehilangan perasaan kehilangan atas kasih-sayangMu... ber-barel2 nikmat dariMu... shalat wajib hanya menggunakan sisa2 waktu... itu pun dengan gerakan2 cepat... apalagi shalat malam yg harganya jika ditimbang setara langit dan bumi.. menangis saat mengharap ridhaMu... Ya Allah, sejatinya kami kehilangan itu semua... tp yg lebih menyedihkan lagi.. kami sungguh tidak merasa kalau kami telah kehilangan perasaan "kehilangan" hal2 tersebut... dari bang TERE Re Post Bakhrul-Ilmi

Waspada Dengan Godaan Wanita

Kamis, 20 September 2012 0 comments
Oleh IBRAHIM ABDULLAH ALLAH SWT telah menganugerahkan kepada kaum wanita keindahan, dan kecantikan yang membuatkan kaum lelaki tertarik kepada mereka. Namun syariat yang suci tidak memperkenankan keindahannya itu dipamerkan seperti barang dagangan. Sebaliknya kenyataan dan realiti yang kita jumpai sekarang ini wanita justeru menjadi sumber fitnah bagi lelaki. Di jalan-jalan, di program televisyen atau cakera padat video (VCD) dan media massa, wanita mendedahkan aurat sekehendak hatinya. Apa lagi melalui pertandingan kecantikan, pertunjukan filem dan drama yang menunjukkan keindahan tubuh wanita sehingga seolah-olah tidak ada seksa dan tidak kenal apa itu dosa. Benarlah sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: Tidak pernah aku tinggalkan sepeninggalanku godaan yang lebih besar bagi kaum lelaki daripada wanita (Riwayat Bukhari dan Muslim). Begitulah realitanya, wanita menjadi sumber godaan yang telah banyak membuat lelaki lemah lutut dan terbenam dalam lumpur maksiat yang dibuat oleh syaitan untuk menenggelamkan manusia. Usaha-usaha untuk menggoda boleh terjadi secara halus, disedari ataupun tidak, secara terang-terangan mahupun tersembunyi. Lihatlah kisah Nabi Yusuf a.s ketika isteri pembesar Mesir secara terang-terangan menggoda beliau untuk diajak melakukan perkara yang sumbang. Nabi Yusuf pun menolak sambil berkata: Aku berlindung kepada Allah (daripada perbuatan yang keji itu), sungguh Tuhanku telah memperlakukan ku dengan baik (Yusuf: 23). Muhammad bin Ishak menceritakan: As-Sirri pernah melalui di suatu jalan di kota Mesir. Kerana tahu dirinya menarik, seorang wanita berkata: “Aku akan menggoda lelaki ini”. Maka wanita itu membuka wajahnya dan memperlihatkan dirinya di hadapan As-Sirri. Beliau lalu bertanya: “Ada apa denganmu ini?” Wanita itu berkata: “Mahukah anda merasakan tilam yang empuk dan kehidupan yang nikmat?” As-Sirri kemudian melantunkan syairnya: “Berapa banyak pencandu kemaksiatan yang mereguk kenikmatan dari wanita itu, namun akhirnya ia mati meninggalkan mereka untuk merasakan seksa yang nyata. “Mereka menikmati kemaksiatan yang hanya sesaat, untuk merasakan bekas-bekasnya yang tak kunjung padam. Wahai kejahatan, sesungguhnya Allah melihat dan mendengar hamba-Nya, dengan kehendak Dia pulalah kemaksiatan itu tertutup jua”. (Raudatul Muhibbin wa Nuzhalul Mustaqim, karya Ibnu Qayyim). Perhatikanlah bagaimana Rasulullah telah memperingatkan kepada kita melalui sabdanya yang bermaksud: Berhati-hatilah pada dunia dan berhati-hatilah pada wanita kerana fitnah pertama bagi Bani Israel adalah kerana wanita (Riwayat Muslim). Kini di era globalisasi, ketika arus informasi begitu deras mengalir, godaan mudah masuk ke rumah-rumah kita, melalui jaringan komunikasi seperti majalah, akhbar, televisyen, filem dan sebagainya. Godaan itu datang di tengah-tengah kita tanpa diundang, menampilkan wanita-wanita yang berpakaian tetapi ‘telanjang’. Melenggok-lenggok mempamerkan aurat yang semestinya dijaga dan dikawal. Sebahagian muslimah ikut terbawa-bawa oleh propaganda dan gaya hidup seperti itu. Pakaian kehormatan dilepas. Diganti dengan pakaian ketat yang membentuk lekuk tubuh tanpa merasa silu dan segan. Godaan pun semakin kencang menerpa, dan pergaulan bebas tanpa batas menjadi perkara biasa. Maka kita perlu merenungkan dua bait syair yang diucapkan oleh Sufyan ath-Thuri: “Kelazatan-kelazatan yang didapati seseorang dari yang haram, akan hilang juga, yang tinggal hanyalah aib dan kehinaan. Segala kejahatan akan meninggalkan bekas-bekas buruk, sungguh tak ada kebaikan dalam kelazatan yang berakhir dengan seksaan dalam neraka”. Seorang ulama yang masyhur, Ibnu Qayyim memberikan nasihat yang sangat berharga: “Allah SWT telah menjadikan mata itu sebagai cerminan hati. Apabila seorang hamba telah mampu menjaga pandangan matanya, bererti hatinya telah mampu mengawal gejolak syahwat dan emosinya. Apabila matanya keranjang, hatinya juga akan liar menuruti syahwatnya”. Hal ini memang berlaku dalam masyarakat kita. Kini banyak berlaku kemaksiatan yang terang-terangan, perangilah kemaksiatan dengan syariat yang dituntut agama. Fenomena godaan wanita memang banyak berlaku yang bukan sahaja terjadi di kalangan orang awam, tetapi juga yang melibatkan pemimpin dan golongan elit di seluruh dunia yang boleh menggoncangkan kedudukan mereka, yang Muslim dan bukan Muslim. Oleh itu perkuatkan iman kita mulai dari terkecil iaitu keluarga. Kalau iman telah kuat dalam suatu keluarga, insya-Allah gejala seperti itu tidak akan terjadi. Di samping itu, kita juga harus menyedari tentang mekanisme perdayaan syaitan yang sentiasa mencari jalan dan helah untuk menjatuhkan martabat anak cucu Adam. Apabila syaitan telah masuk ke dalam darah daging manusia, amat sukar untuk melepaskannya. Kerana tidak ada garis pemisah antara perdayaan syaitan dengan perdayaan dan tipu daya manusia. Ibarat kita berhadapan dengan serigala yang telah berbaju kambing atau musang yang telah berbulu ayam. Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Akan keluar beberapa kaum nanti, muka mereka seperti muka manusia, akan tetapi hati mereka seperti hati syaiaslimin melalui dengan godaan wanita. Wallahu ‘alam. Penulis; sekadar memperpanjangkan tulisan yang menginsafkan ini. Peringatan buat lelaki Muslim dan juga pastinya wanita Muslimah. Sama-sama menjaga diri, memelihara iman. Kehidupan dunia ini penuh dengan fitnah. Semoga kita terpelihara dan terhindar. Amin.

*Hakikat kebahagiaan

Rabu, 19 September 2012 0 comments
“Ayah akan bercerita. Maukah kau mendengarnya? Ayah janji ini cerita terakhir.” Aku mengangguk. Ayah menarik napas dalam-dalam, memperbaiki posisi berbaringnya. “Kau pasti selalu bertanya-tanya, apakah Ibu bahagia? Akan Ayah ceritakan apakah Ibu sesungguhnya bahagia atau tidak.” “Dalam salah satu perjalanan jauh yang pernah Ayah lakukan, Ayah tiba pada perkampungan para sufi. Kau tahu apa itu sufi? Sufi adalah orang-orang yang tidak mencintai dunia dan seisinya. Mereka lebih sibuk memikirkan hal lain. Memikirkan filsafat hidup, makna kehidupan, dan prinsip-prinsip hidup yang agung. Ayah tahu, di antara banyak sufi, tidak semuanya berhasil mencapai pemahaman yang sempurna tentang kehidupan. Ada yang baru tertatih belajar tentang kenapa kita harus hidup. Ada yang sudah mencapai pemahaman apa tujuan dan makna hidup, dan ada pula yang telah berhasil melakukan perjalanan spiritual hingga memahami hakikat sejati kebahagiaan hidup. “Itu pertanyaan terpenting Ayah. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekadar kabar buruk? Kenapa hidup kita seperti dikendalikan sebuah benda yang disebut hati. Tidak ada di antara sekelompok sufi itu yang bisa memberikan penjelasan memuaskan. Mereka menggeleng, hingga akhirnya salah seorang dari mereka menyarankan Ayah berangkat ke salah satu lereng gunung. Di sana tinggal salah satu sufi besar, ribuan muridnya, bijak orangnya, boleh jadi dia tahu jawabannya. Ayah bergegas mengemas ransel, berangkat siang itu juga. “Ayah menemui sang Guru. Dia menerima Ayah dengan ramah, memberi Ayah kesempatan bertanya. Pertanyaan Ayah hanya satu, Dam. Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Dengan memahaminya, seluruh kesedihan akan menguap seperti embun terkena sinar matahari. Dengan memilikinya, setiap hari kita bisa menghela napas bahagia. Sang Guru terdiam lama, menggeleng, berkata kau memberikan pertanyaan yang dia tidak tahu, tidak ada orang di dunia yang bisa menjawabnya. Ayah mendesah kecewa, ke mana lagi harus mencari tahu. Sang Guru menatap Ayah lamat-lamat, berpikir sejenak. Seberapa tangguh Ayah berusaha mencari tahu? Ayah berkata mantap, apa pun akan Ayah lakukan. “Sang Guru tersenyum. Dia memberikan pekerjaan teraneh yang pernah Ayah tahu. Seratus mil dari lereng gunung tempat dia bermukim terdapat tanah luas di tepi hutan. Ada perkampungan dekat hutan itu. Perkampungan itu butuh sumber mata air berupa danau. Sang Guru menyuruhku membuatkan danau di tanah luas itu. Astaga, Dam, benar-benar sebuah danau. Itu bukan pekerjaan mudah.” Ayah tertawa pelan, membuat napasnya sedikit tersengal. “Sang Guru bilang, ketika kau berhasil membuat sebuah danau indah yang jernih bagai air mata, kau akan mendapatkan jawaban hakikat sejati kebahagiaan. Berangkatlah, setahun kemudian dia akan datang. Dia akan melihat apakah danau itu sudah sebening air mata. “Walau aku tidak punya ide apa pun soal danau itu, Ayah mengangguk mantap. Ayah sudah menduga, definisi kebahagiaan sejati seharga pengorbanan besar. Itu pencapaian paling tinggi seorang sufi, dan sepertinya tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku atau bertanya. Ayah berangkat, memulai pekerjaan besar itu, membuat danau yang cukup untuk satu kampung. “Kau tahu, Dam, tidak berbilang tanah yang harus Ayah pindahkan. Berkubang licak setiap hari, mulai bekerja saat matahari terbit, baru berhenti ketika matahari tenggelam. Ayah baru berhenti saat galian itu memiliki kedalaman tiga meter, luasnya sebesar lapangan bola. Pekerjaan Ayah baru separuh selesai. Ayah kemudian membuat parit-parit dari mata air yang ada di hutan, mengalirkannya ke lubang danau. Setahun berlalu, danau itu jadi. Ayah tersenyum senang. Tidak lama lagi jawaban pertanyaan itu akan datang. Lihatlah, danau yang Ayah buat sebening air mata. “Sesuai janji, sang Guru datang menjenguk Ayah pada hari yang ditentukan. Sialnya, malam sebelum dia datang, hujan turun. Sumber mata air di hutan menjadi kotor. Aku yang semangat mengajak sang Guru ke tepi danau mendesah kecewa. Lihat, danau yang Ayah buat jauh dari bening, berubah keruh. Sang Guru menepuk bahu Ayah. Jangan putus asa, tahun depan sang Guru akan kembali. “Setelah memikirkan jalan keluarnya, Ayah memutuskan membuat saringan di setiap parit, agar air keruh dan kotor dari mata air ketika hujan turun tetap bening saat tiba di danau. Ayah mengerjakannya dengan senang hati. Ide ini akan berhasil. Ayah juga memperbaiki seluruh parit yang bermuara ke danau, memastikan tidak ada sumbernya yang bermasalah. Sedikit saja ada air keruh masuk, danau sekristal air mata langsung tercemar. “Setahun berlalu lagi, sang Guru datang menjenguk Ayah. Lihat, danau buatan Ayah indah tiada terkira. Pantulan dedaunan di atas permukaan danau seperti nyata. Ayah tersenyum, menunggu jawaban atas pertanyaan Ayah. Sang Guru menggeleng. Dia meraih sepotong bambu panjang, lantas menusuk-nusuk dasar danau. Ayah berseru, mencegahnya. Itu akan membuat air danau keruh. Benar saja, lantai danau yang terbuat dari tanah langsung mengeluarkan kepul lumpur kecokelatan. Dalam sekejap, danau bening itu musnah. Sang Guru menepuk-nepuk bahu Ayah, kau pikirkan lagi, tahun depan aku akan kembali.” Ayah diam sejenak, menarik napas pelan. “Kau tahu, Dam. Ayah seperti dipermainkan. Apalagi yang kurang dari danau Ayah? Dua tahun sia-sia. Baiklah, Ayah tahu apa yang harus Ayah kerjakan. Ayah memutuskan menggali danau sedalam mungkin hingga menyentuh dasar bebatuan, menyentuh mata airnya. Setahun berlalu, Ayah masih berkutat menyingkirkan tanah-tanah, kedalaman danau sudah sepuluh meter. Sang Guru datang, melihat dengan takzim Ayah yang sibuk bekerja. Dua tahun berlalu, Ayah masih berkutat mengeduk tanah. Tiga tahun berlalu, setelah kerja keras siang-malam, akhirnya Ayah berhasil menyentuh dasar bebatuan. Air keluar deras dari sela-sela batunya. Ayah tertawa senang. Semua parit Ayah tutup. Danau itu sempurna hanya digenangi air dari mata airnya sendiri. “Guru datang pada hari yang dijanjikan. Dia tertawa renyah melihat danau yang bagai kristal air mata. Tetap bening meski ada yang menusuk-nusuk dasarnya, tetap dengan cepat kembali bening meski ada air dari parit yang bocor dan sejenak membuat keruh. Sang Guru menatap Ayah, bertanya apakah Ayah masih butuh penjelasan atas pertanyaan itu. Ayah menggeleng. Hari itu Ayah sudah tahu jawabannya, Dam. Setelah lima tahun bekerja keras, hanya untuk memahami sebuah kebijaksanaan hidup sederhana, Ayah tahu jawabannya. “Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang, dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan. “Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapatkan kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang. “Itulah hakikat sejati kebahagiaan, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih. *novel 'Ayahku (bukan) Pembohong, Tere Liye, Gramedia Pustaka Utama

Berfikir Sebelum Bicara

Minggu, 16 September 2012 0 comments
Seorang pemuda berusia 24 tahun melepaskan pandangannya melalui jendela kereta api, seraya berteriak kegirangan:”Ayah, coba lihat, pohon- pohon itu menyusul kita”. Ayahnya tersenyum sambil menganggukkan kepala dengan wajah yang tidak kurang ceria. Di samping pemuda itu ada sepasang suami-istri yang mengamati tingkah pemuda yang kekanak-kanakan itu. Mereka berdua merasa sangat risih. Tidak lama pemuda itu kembali berteriak: “Ayah, lihat itu, awan ikut berjalan bersama kita”. Ayahnya tersenyum lagi menunjukkan kebahagiaan. Dua orang suami-istri di samping pemuda itu tidak mampu menahan diri, akhirnya mereka berkata kepada ayah pemuda itu: “Kenapa anda tidak membawa anak anda ini kedokter jiwa?” Ayah pemuda itu menjawab: “Kami baru saja kembali dari rumah sakit, anakku ini menderita kebutaan semenjak lahirnya, dan hari ini adalah hari pertama dia bisa melihat dunia dengan mata kepalanya”. Pelajaran: Setiap orang mempunyai cerita hidup masing-masing, oleh karena itu jangan memvonis seseorang dengan melihat zahirnya saja. Barangkali saja bila anda mengetahui kondisi sebenarnya anda akan tercengang. Maka kita perlu berfikir sebelum bicara.

Pages