Kesabaran Penuntut Ilmu

Kamis, 06 Maret 2014 0 comments
       Sering kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari nasihat yang berkaitan dengan kesabaran. Tidak jarang nasihat-nasihat tersebut ditujukan kepada diri kita, terkhusus dari orang-orang terdekata kita. “Sing sabar yo le . .” yang sabar ya nak. Bahkan kita sendiri seolah dibuat bosan dengan seruan untuk bersabar. Apa sih sebenarnya makna besar dibalik kesabaran?

        Masih ingat dengan kisah kesabaran nabi Ayyub ‘alaihissalam? Atau kisah nabi kita sendiri Muhammad s.a.w yang tetap sabar walau kaum kafir Quraisy memusuhinya semua. Tentunya diantara kita sudah membaca berbagai kisah tersebut yang memang diriwayatkan kepada kita. Bahkan tidak hanya membaca, namun juga menelaah hikmah-hikmah yang termuat didalamnya. Bahkan jauh sebelum kata dewasa tersematkan pada diri kita, mulai dari bangku sekolah dasar atau sekolah agama di kampong. Sebenarnya yang sedikit ini sudah menunjukkan bahwa kita sudah banyak belajar sabar dari dulu, jadi tidak usah berpanjang kata untuk menjelaskan apa itu sabar yang sebenarnya.

            Nasihat yang selalu mengalir untuk selalu sabar dalam segala apa yang terjadi kepada kita, atau pada setiap proses yang terjadi kepada kita mungkin malah muncul bukan dari seorang tokoh agama atau para ‘ulama di tempat kita, namun muncul dari mulut-mulut sebagian orang yang kita anggap tidak berpendidikan. Namun bukan main, terkadang sungguh mujarab nasihat tersebut hingga mampu menjadikan seseorang melewati masa kritisnya atau melalui rintangan beratnya dalam sebuah proses. Karena tidak ada batasan siapa yang boleh memberi nasihat dalam kesabaran ini. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam surat al ‘asr ayat terahir
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Yang artinya : kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.

Dalam ayat tersebut dijelaskan orang-orang yang tidak akan merugi dalam kehidupannya, setelah dijelaskan bahwa sesungguhnya Manusia akan merugi pada ayat sebelumnya. Dan kita berharap serta memohon kepada Allah untuk dimasukkan kedalam golongan yang disebutkan dalam ayat terahir surat al ‘asr.
            Kali ini penulis akan sedikit mengaitkan antara kesabaran dengan para Thaalibul ‘ilmi yang memang sungguh sangat erat kaitan antara keduanya. Karena memang dalam belajar sesuatu terlebih mempelajari materi-materi yang bermuatan agama memang dibutuhkan modal sabar yang besar. Akan ditemui di setiap tingkatannya beberapa ujian dan hambatan yang memang lazim didapati oleh seorang penuntut ilmu. Dan disinilah nanti akan diuji seberapa besar kesabarannya dan apakah akan mampu melewati ujain tersebut atau terhempas menjadi seorang pelajar dengan status K.O.

            Masih ingat dengan kisah nabi Musa ‘alaihissalam ketika Allah perintahkan untuk bertemu dengan dengan nabi Khidr? Kisah ini tertulis dalam surat al kahfi yang disunnahkan untuk dibaca setiap malam jum’at atau hari jum’at. Dalam kisah tersebut diceritakan nabi Musa diperintahkan untuk belajar kepada seorang nabi yang bernama Khidr. Dalam perjalanannya melakukan sebuah pembelajaran bersama nabi Khidr beliau mendapatkan syarat untuk tidak mempertanyakan apa-apa yang dilakukan oleh nabi Khidr. Namun akhirnya pada setiap kejadian yang terjadi, nabi Musa tidak mampu untuk bersabar atas apa yang dilihatnya, dan selalu menanyakan penyebab kenapa hal tersebut berlaku atau terjadi di depannya. Hingga kemudian nabi Musa gagal melakukan proses pembelajaran yang sudah ditetapkan atasnya.

            Kita lihat dengan sendiri, penuntut ilmu sekelas Musa ‘alaihissalam saja berat menempuh sebuah proses yang terjadi dimana erat sekali kaitannya dengan sabar, bagaimana dengan kita yang hanya seorang insan biasa yang tiada keistimewaan sedikitpun. Namun hal ini seharusnya menjadi alasan bagi setiap thaalibul ‘ilm untuk selalu berusaha sebaik mungkin untuk mampu bersabar dalam masa belajarnya, atau menjadikannya untuk selalu memperbaharui apa yang menjadi tujuannya dalam mengarungi bahtera ilmu.

            Sedikit apa yang bisa penulis sampaikan kepada teman-teman sekalian dalam melalui proses belajarnya dengan kesabaran yaitu belajar mengambil hikmah dari setiap hal yang membutuhkan kesabaran dari diri kita masing-masing. Karena hal itu mampu dijadikan guru bagi setiap individu, seperti kata pepatah pengalaman adalah guru yang terbaik. Setiap hal yang kita lalui dengan penuh kesabaran akan menjadi pengalaman bagi kita bahkan tidak terlupakan terkadang. Satu lagi yang perlu diingat, bahwa kesabaran mesti dibarengi dengan keikhlasan. Bagai kepingan mata uang, antara yang satu dengan yang lain tidak akan terpisahkan dan akan selalu bersama. Teringat sebuah tanyangan di televisi, ada seorang pemuda mendatangi rumah seorang wanita untuk dia pinang. Kemudian disambut oleh sang Ayah wanita dengan sesuatu yang berbeda, diberikanlah sebuah persyaratan kepada pemuda tadi sebelum ia boleh meminang anak gadisnya. Sang pemuda diminta untuk mempelajari ilmu ikhlas, dan ia dibuat bingung sendiri karena tidak tahu harus belajar dengan siapa mengenai ilmu ikhlas ini.

            Ibroh yang bisa dipetik dari kisah seorang pemuda tadi ialah mengenai keikhlasan yang menjadi titik beratnya. Keikhlasan hanya ada dalam hati setiap masing-masing kita, dan tidak akan ada barometer yang kasat mata dalam mengukur ikhlas. Hubungan antara kesabaran dan keikhlasan inilah yang menjadi rumus sukses perjalanan para penuntut ilmu, dan menjadi sesuatu yang mujarab untuk dilakukan oleh orang-orang yang ingin menuai kata sukses dalam akhir proses yang dihadapinya. Dan kita semua berharap semoga Allah selalu menjadikan kita termasuk dalam orang-orang yang selalu bersabar dan ikhlas dalam semua aktifitas kita maupun segala hal yang terjadi pada diri kita.
Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi
Untuk syarat beasiswa BWAKM bulan Maret

Pages