Cerpen; Panggung realita

Minggu, 13 Oktober 2013 0 comments
Panggung Realita[1]
Imam masjid kembali memasuki ruangan yang sudah disediakan selesai shalat, dan aku masih sibuk melantunkan doaku. Usai shalat Ashar jamaah Masjid Biru kembali meneruskan kesibukan mereka masing-masing. Masjid yang cukup tua ini menjadi ikon yang berarti bagi keberadaan orang-orang islam di Turki. Keindahan desain masjid menjadikan banyak wisatawan Asing penasaran dengan rupanya yang begitu memukau. Masjid yang mampu memuat kurang lebih sepuluh ribu Jama'ah ini memang sudah lama ada. Persis sekitar tahun 1609 M. bangunan masjid ini didirikan. yah, walaupun aku tak tau siapa pendirinya, yang terpenting, keindahan masjid yang tiada duanya ini bisa kunikmati.
Kususuri taman didepan masjid, sesekali kulirik enam menara Masjid Biru yang tampak gagah menjulang. Aku kembali teringat beberapa tahun silam ketika ibu masih disisiku. Seringkali ia mengajakku mengunjungi tempat indah ini. Kami sering berkunjung sore hari kala matahari malu untuk memandangku. Tepat ditaman depan Aya Sophia aku bergurau dan bercerita dengan dirinya, sesekali ia mengangguk atau hanya membalas dengan senyum simpul. Aya Sophia menjadi sebuah Masjid setelah sebelumnya berupa Gereja. Ya, kini aku mampu menikmati dua Peradaban besar Byzantine dan Utsmani. Aku berada diantara Masjid Biru dan Aya Sophia. Ditengah icon dua agama besar, Kristen dan Islam. Dan yang terpenting adalah diriku mampu untuk menikmati manisnya iman, setelah melewati masa-masa kelam dimasa lalu.
"Ersoy, Sana kahve ismarlayacagim olur mu?"[2]
Muncul suara dari arah belakangku. Ternyata Fatih datang menyelamatkanku dari lamunan panjang. Fatih, seorang yang beruntung mendapati kedua orang tuanya dalam satu kepercayaan yang sama, juga seorang sahabat yang dekat karena sebab keimanan kami yang sama pula. pertama kali bertemu dirinya tatkala ikrar syahadatku kuucapkan selepas Maghrib tiga tahun lalu di Masjid Biru, aku seorang mu’allaf. Kebetulan rumahnya pun tak jauh dari sini.
"Tamam.Beni nereye götüreceksin?"[3]tanyaku,
"Kafeda MASRY"[4] jawabnya,

"Hadi!"[5]pungkasku.
         Aku dan Fatih berjalan bersama menuju Kedai Kopi dibelakang Aya Sophia. Fatih sahabat yang sangat baik, aku sering meminta tolong segala hal padanya, dan tak pernah sekalipun ia mengeluh padaku. Kami sering diskusi bersama tentang banyak topik. Tentang gejolak Arab Spring, sejarah kekhalifahan islam yang sempat mampir dinegara kami, juga mengenai Uni Eropa yang mulai tidak suka dengan perkembangan hukum pemerintahan Turki yang lebih condong ke Islam. Setelah sekian lama menjadi Negara sekuler, Turki mulai kembali ke praktik keagamaan tradisional sejak tahun 1946 M. Ditandai dengan peringanan kontrol politik otoriter semuanya berangsur kembali. Bahkan terakhir aku mendengar Perdana menteri memberi mandat untuk menghapus larangan berhijab para muslimah yang menjadi Pegawai Negeri.
            Kami memasuki Kedai Kopi yang jadi langganan kami berdua. Walaupun kedai kopi ini milik orang Mesir, tetapi bentuknya jauh berbeda seperti kedai kopi di Kairo. Dua tahun yang lalu aku sempat berkunjung ke Mesir untuk travelling, dan sedikit banyak tahu ujung-ujung kota Kairo. Kedai Kopi Masry jauh lebih baik dan lebih bersih, ini yang bikin betah para pengunjung. Ditambah dengan fasilitas full music nya yang unik, karena lagu-lagu yang diputar berbahasa Arab Mesir. Kali ini Ana Masry milik Nancy Agram sedang diputar. Walaupun Nancy Agram bukan orang Mesir, tapi seolah lagu ini jadi lagu kebangsaan kedua di Mesir. Fatih mulai memesan dua kopi Ben 'Arossa yang menjadi andalan kami berdua, dan aku mulai mencari-cari tema yang bisa diobrolkan di senja kali ini. Teringat cerita seorang Muadzin di Masjid Biru sebelum Ashar, ia bercerita bahwa seorang Musisi Turki menghina Islam melalu jejaring sosial baru-baru ini. Kadang aku berfikir, ternyata masih banyak orang yang tidak menyukai Islam. Walaupun geram juga ketika mendengar pemberitaan yang memojokkan dan memandang rendah Islam.
         Mu'allaf baru, mungkin tepat disematkan pada diriku. Sejak awal keislamanku, ibuku belum mengetahui kenyataan ini. Sampai suatu ketika ia yang baik hati dan lembut tutur katanya mengetahui Agama baru yang melekat padaku. Kemudian Aku ajak ibu untuk ikut bersamaku dalam meniti jalan lurus yang dijanjikan Allah. Seolah tak terjadi apa-apa, ia hanya memintaku memilih antara Islam atau dirinya. Bukan kepalang aku pusing dibuatnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tetap memegang teguh jawaban atas seluruh keraguanku saat itu. Hingga kepergianku dari rumah menjadi titik awal pengembaraanku terhadap Agama yang mulia ini.
              Aku sibukkan diriku dalam kegiatan LSM di Masjid Bitu. Kesibukanku semakin bertambah setelah gejolak revolusi di negeri Arab menjadi-jadi. Lembaga milik kami selalu berurusan dengan segala kepentingan yang bertajuk muslim. Mengakomodir bantuan, Pengiriman relawan, serta publikasi realita yang terjadi ditengah konflik. Aku berusaha menjadikan diriku seseorang yang bermanfaat untuk orang lain.
             Ribuan dollar hampir setiap hari keluar masuk kantong kas Lembaga Swadaya milik kami, dan ini merupakan amanat yang besar. Kali ini aku sedang tertarik dengan perkembangan Suriah, Negeri Syam yang penuh dengan darah dan akan menjadi titik awal perang besar bagi ummat manusia seperti yang dijanjikan Nabiku melalui lisannya. Bantuan uang, makanan, obat-obatan, serta relawan, selalu kita kirimkan kesana dalam dua pekan sekali.Tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku pikir inilah jalan terbaik yang bisa kutempuh. Sedangkan yang kutahu diluar sana banyak kepentingan tiap golongan berbeda yang saling tumpang tindih. Walaupun katanya banyak fitnah di Negeri tersebut, akan tetapi sebagai seorang muslim aku tak mau melihat luka saudara dibiarkan begitu saja.
            Tepat diatas mejaku dan Fatih sudah ada koran yang selalu disediakan pemilik kedai. Sedikit kubaca dan kucari sesuatu yang menarik selagi menunggu kopi milik kami. Ahai, sebuah berita yang membuatku sedikit tersenyum, "Seorang Pianis kenamaan dijebloskan penjara". Aku sedikit menyimpulkan, jangan menghina Islam di Turki, karena Negeri ini telah banyak berubah. Begitu juga dengan kebijakan-kebijakkan Turki dalam memandang permasalahan Dunia. Mungkin ini yang menjadikan Negara-Negara Uni Eropa kembali memandang sebelah mata Negri ini, setelah dahulu sempat dirangkul erat pasca naiknya Mustafa Kemal Atatürk sebagai Pendiri dan Presiden pertama Republik Turki.
             Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Kopi Ben 'Arossa milik kami datang. Belum sempat kopi panas kuminum tiba-tiba telepon genggamku berdering pertanda ada panggilan masuk. Kusempatkan untuk mengangkatnya terlebih dahulu, takut ada sesuatu yang mendesak.
"Stop your activities in syria if you want to meet with your mother"[6]
Terdengar sayup suara diseberang sana, dan sepertinya bukan suara orang Turki.
"Sorry, I can’t"[7]jawabku,
Tanpa banyak bicara kututup telepon dengan segera. Aku terlalu bosan menerima ancaman yang bermacam-macam. Banyak yang memintaku untuk segera menghentikan program kemanusiaan yang sedang kutekuni di Negeri Syam. Bahkan sudah tak terhitung ancaman melalui telepon yang sering kuterima setiap harinya. Namun aku mulai bertanya dalam hati, kenapa ibuku masuk dalam ancaman ini. Aku hanya bisa berharap ini sebuah ancaman yang biasa kuterima seperti sebelumnya.
              Untuk meredakan gejala emosi yang muncul tiba-tiba, aku ambil jatah kopi panas ku. Dengan gelas bermotif bunga yang penuh warna menjadikanku sedikit mudah menstabilkan diri. Walaupun penuh dengan kegiatan sehari-hari yang membuat penat kepala, namun dengan mudah dapat kuobati dengan memesan kopi panas bersama Fatih di kedai ini. Sedikit kucicipi kopi panas tersebut dan kemudian kuletakkan kembali gelas bermotif bunga diatas meja. Kupandangi sahabatku Fatih yang duduk tepat didepanku sembari melemparkan senyum manis sebagai shadaqah ku di kala senja. Karena senyum adalah shadaqah tutur nabi akhir zaman. Namun belum genap senyumku mengembang tiba-tiba kepala begitu pusing dan jantungku berdegup begitu kencang. Aku tak tahu apa yang kurasakan, yang pasti tubuhku mulai berat.
"I’m sorry ersoy, this is for you"[8]
Tiba-tiba Fatih berujar padaku dengan senyum penuh kemenangan. Aku kaget Fatih bisa berbahasa inggris, padahal sejauh yang kuketahui ia hanya mampu berbahasa Turki. Hingga kesimpulan tak berujung menjadi jalan buntu bagiku.
Badanku ambruk keatas meja, dengan kepala menghadap jalanan didepan kedai kopi. Aku dengan separuh kesadaran melihat seorang wanita tua dengan kerudung putihnya mencoba menyeberangi jalan raya kearah kedai kopi tempatku terdiam, dan tiba-tiba sebuah mobil Chevrolet hitam menghantamnya dengan keras hingga ia terhempas tak sadarkan diri. Aku mencoba mengeluarkan sebuah kata namun sangat berat, dan akhirnya kata itu keluar dengan lirih
"Anne"[9]
Tanpa terasa air mata mengalir dari ujung mataku. Hingga kemudian semuanya gelap, dan aku tak tahu apa yang terjadi. Sianida[10] menjadi akhir segalanya.




[1]Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Cairo)
[2]Ersoy,maukah kau kuajak minum kopi bersama?
[3]baiklah, mau kau ajak kemana aku?
[4]Kedai Kopi MASRY
[5]Ayo!
[6]Hentikan aktivitas Anda di Suriah jika Anda ingin bertemu dengan ibumu
[7]Maaf, aku tidak bisa
[8] Maaf Ersoy, ini untukmu
[9] Ibu
[10] Salah satu jenis racun mematikan

** Cerpen ini menjadi Juara 1 dalam Lomba Cipta dan Baca cerpen HMM (Himpunan Mahasiswa Medan) Mesir

Pages