Panggung Realita[1]
Imam
masjid kembali memasuki ruangan yang sudah disediakan selesai shalat, dan aku
masih sibuk melantunkan doaku. Usai shalat Ashar jamaah Masjid Biru kembali
meneruskan kesibukan mereka masing-masing. Masjid yang cukup tua ini menjadi
ikon yang berarti bagi keberadaan orang-orang islam di Turki. Keindahan desain
masjid menjadikan banyak wisatawan Asing penasaran dengan rupanya yang begitu
memukau. Masjid yang mampu memuat kurang lebih sepuluh ribu Jama'ah ini memang
sudah lama ada. Persis sekitar tahun 1609 M. bangunan masjid ini didirikan.
yah, walaupun aku tak tau siapa pendirinya, yang terpenting, keindahan masjid
yang tiada duanya ini bisa kunikmati.
Kususuri taman didepan masjid, sesekali
kulirik enam menara Masjid Biru yang tampak gagah menjulang. Aku kembali
teringat beberapa tahun silam ketika ibu masih disisiku. Seringkali ia
mengajakku mengunjungi tempat indah ini. Kami sering berkunjung sore hari kala
matahari malu untuk memandangku. Tepat ditaman depan Aya Sophia aku bergurau
dan bercerita dengan dirinya, sesekali ia mengangguk atau hanya membalas dengan
senyum simpul. Aya Sophia menjadi sebuah Masjid setelah sebelumnya berupa
Gereja. Ya, kini aku mampu menikmati dua Peradaban besar Byzantine dan Utsmani.
Aku berada diantara Masjid Biru dan Aya Sophia. Ditengah icon dua agama besar,
Kristen dan Islam. Dan yang terpenting adalah diriku mampu untuk menikmati manisnya
iman, setelah melewati masa-masa kelam dimasa lalu.
"Ersoy,
Sana kahve ismarlayacagim olur mu?"[2]
Muncul
suara dari arah belakangku. Ternyata Fatih datang menyelamatkanku dari lamunan
panjang. Fatih, seorang yang beruntung mendapati kedua orang tuanya dalam satu
kepercayaan yang sama, juga seorang sahabat yang dekat karena sebab keimanan
kami yang sama pula. pertama kali bertemu dirinya tatkala ikrar syahadatku
kuucapkan selepas Maghrib tiga tahun lalu di Masjid Biru, aku seorang mu’allaf.
Kebetulan rumahnya pun tak jauh dari sini.
"Tamam.Beni
nereye götüreceksin?"[3]tanyaku,
"Kafeda
MASRY"[4]
jawabnya,
"Hadi!"[5]pungkasku.
Aku dan Fatih berjalan bersama
menuju Kedai Kopi dibelakang Aya Sophia. Fatih sahabat yang sangat baik, aku
sering meminta tolong segala hal padanya, dan tak pernah sekalipun ia mengeluh
padaku. Kami sering diskusi bersama tentang banyak topik. Tentang gejolak Arab
Spring, sejarah kekhalifahan islam yang sempat mampir dinegara kami,
juga mengenai Uni Eropa yang mulai tidak suka dengan perkembangan hukum
pemerintahan Turki yang lebih condong ke Islam. Setelah sekian lama menjadi
Negara sekuler, Turki mulai kembali ke praktik keagamaan tradisional sejak
tahun 1946 M. Ditandai dengan peringanan kontrol politik otoriter semuanya
berangsur kembali. Bahkan terakhir aku mendengar Perdana menteri memberi mandat
untuk menghapus larangan berhijab para muslimah yang menjadi Pegawai Negeri.
Kami memasuki Kedai Kopi yang
jadi langganan kami berdua. Walaupun kedai kopi ini milik orang Mesir, tetapi
bentuknya jauh berbeda seperti kedai kopi di Kairo. Dua tahun yang lalu aku sempat
berkunjung ke Mesir untuk travelling, dan sedikit banyak tahu ujung-ujung kota
Kairo. Kedai Kopi Masry jauh lebih baik dan lebih bersih, ini yang bikin
betah para pengunjung. Ditambah dengan fasilitas full music nya yang
unik, karena lagu-lagu yang diputar berbahasa Arab Mesir. Kali ini Ana Masry
milik Nancy Agram sedang diputar. Walaupun Nancy Agram bukan orang Mesir, tapi
seolah lagu ini jadi lagu kebangsaan kedua di Mesir. Fatih mulai memesan dua
kopi Ben 'Arossa yang menjadi andalan kami berdua, dan aku mulai
mencari-cari tema yang bisa diobrolkan di senja kali ini. Teringat cerita
seorang Muadzin di Masjid Biru sebelum Ashar, ia bercerita bahwa seorang Musisi
Turki menghina Islam melalu jejaring sosial baru-baru ini. Kadang aku berfikir,
ternyata masih banyak orang yang tidak menyukai Islam. Walaupun geram juga
ketika mendengar pemberitaan yang memojokkan dan memandang rendah Islam.
Mu'allaf baru, mungkin tepat
disematkan pada diriku. Sejak awal keislamanku, ibuku belum mengetahui
kenyataan ini. Sampai suatu ketika ia yang baik hati dan lembut tutur katanya
mengetahui Agama baru yang melekat padaku. Kemudian Aku ajak ibu untuk ikut
bersamaku dalam meniti jalan lurus yang dijanjikan Allah. Seolah tak terjadi
apa-apa, ia hanya memintaku memilih antara Islam atau dirinya. Bukan kepalang
aku pusing dibuatnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tetap memegang teguh
jawaban atas seluruh keraguanku saat itu. Hingga kepergianku dari rumah menjadi
titik awal pengembaraanku terhadap Agama yang mulia ini.
Aku sibukkan diriku dalam
kegiatan LSM di Masjid Bitu. Kesibukanku semakin bertambah setelah gejolak
revolusi di negeri Arab menjadi-jadi. Lembaga milik kami selalu berurusan
dengan segala kepentingan yang bertajuk muslim. Mengakomodir bantuan,
Pengiriman relawan, serta publikasi realita yang terjadi ditengah konflik. Aku
berusaha menjadikan diriku seseorang yang bermanfaat untuk orang lain.
Ribuan dollar hampir setiap hari
keluar masuk kantong kas Lembaga Swadaya milik kami, dan ini merupakan amanat
yang besar. Kali ini aku sedang tertarik dengan perkembangan Suriah, Negeri
Syam yang penuh dengan darah dan akan menjadi titik awal perang besar bagi
ummat manusia seperti yang dijanjikan Nabiku melalui lisannya. Bantuan uang, makanan,
obat-obatan, serta relawan, selalu kita kirimkan kesana dalam dua pekan
sekali.Tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku pikir inilah jalan terbaik
yang bisa kutempuh. Sedangkan yang kutahu diluar sana banyak kepentingan tiap
golongan berbeda yang saling tumpang tindih. Walaupun katanya banyak fitnah di
Negeri tersebut, akan tetapi sebagai seorang muslim aku tak mau melihat luka
saudara dibiarkan begitu saja.
Tepat diatas mejaku dan Fatih
sudah ada koran yang selalu disediakan pemilik kedai. Sedikit kubaca dan kucari
sesuatu yang menarik selagi menunggu kopi milik kami. Ahai, sebuah berita yang
membuatku sedikit tersenyum, "Seorang Pianis kenamaan dijebloskan
penjara". Aku sedikit menyimpulkan, jangan menghina Islam di Turki, karena
Negeri ini telah banyak berubah. Begitu juga dengan kebijakan-kebijakkan Turki
dalam memandang permasalahan Dunia. Mungkin ini yang menjadikan Negara-Negara
Uni Eropa kembali memandang sebelah mata Negri ini, setelah dahulu sempat
dirangkul erat pasca naiknya Mustafa Kemal Atatürk sebagai Pendiri dan Presiden
pertama Republik Turki.
Setelah menunggu beberapa saat
akhirnya Kopi Ben 'Arossa milik kami datang. Belum sempat kopi panas
kuminum tiba-tiba telepon genggamku berdering pertanda ada panggilan masuk. Kusempatkan
untuk mengangkatnya terlebih dahulu, takut ada sesuatu yang mendesak.
"Stop
your activities in syria if you want to meet with your mother"[6]
Terdengar
sayup suara diseberang sana, dan sepertinya bukan suara orang Turki.
"Sorry,
I can’t"[7]jawabku,
Tanpa
banyak bicara kututup telepon dengan segera. Aku terlalu bosan menerima ancaman
yang bermacam-macam. Banyak yang memintaku untuk segera menghentikan program
kemanusiaan yang sedang kutekuni di Negeri Syam. Bahkan sudah tak terhitung
ancaman melalui telepon yang sering kuterima setiap harinya. Namun aku mulai
bertanya dalam hati, kenapa ibuku masuk dalam ancaman ini. Aku hanya bisa
berharap ini sebuah ancaman yang biasa kuterima seperti sebelumnya.
Untuk meredakan gejala emosi
yang muncul tiba-tiba, aku ambil jatah kopi panas ku. Dengan gelas bermotif
bunga yang penuh warna menjadikanku sedikit mudah menstabilkan diri. Walaupun
penuh dengan kegiatan sehari-hari yang membuat penat kepala, namun dengan mudah
dapat kuobati dengan memesan kopi panas bersama Fatih di kedai ini. Sedikit
kucicipi kopi panas tersebut dan kemudian kuletakkan kembali gelas bermotif
bunga diatas meja. Kupandangi sahabatku Fatih yang duduk tepat didepanku
sembari melemparkan senyum manis sebagai shadaqah ku di kala senja. Karena
senyum adalah shadaqah tutur nabi akhir zaman. Namun belum genap senyumku
mengembang tiba-tiba kepala begitu pusing dan jantungku berdegup begitu
kencang. Aku tak tahu apa yang kurasakan, yang pasti tubuhku mulai berat.
"I’m
sorry ersoy, this is for you"[8]
Tiba-tiba
Fatih berujar padaku dengan senyum penuh kemenangan. Aku kaget Fatih bisa
berbahasa inggris, padahal sejauh yang kuketahui ia hanya mampu berbahasa
Turki. Hingga kesimpulan tak berujung menjadi jalan buntu bagiku.
Badanku
ambruk keatas meja, dengan kepala menghadap jalanan didepan kedai kopi. Aku
dengan separuh kesadaran melihat seorang wanita tua dengan kerudung putihnya
mencoba menyeberangi jalan raya kearah kedai kopi tempatku terdiam, dan
tiba-tiba sebuah mobil Chevrolet hitam menghantamnya dengan keras hingga
ia terhempas tak sadarkan diri. Aku mencoba mengeluarkan sebuah kata namun
sangat berat, dan akhirnya kata itu keluar dengan lirih
"Anne"[9]
Tanpa
terasa air mata mengalir dari ujung mataku. Hingga kemudian semuanya gelap, dan
aku tak tahu apa yang terjadi. Sianida[10]
menjadi akhir segalanya.
[1]Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi (Mahasiswa
Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Cairo)
[5]Ayo!
[6]Hentikan aktivitas Anda di Suriah jika
Anda ingin bertemu dengan ibumu
[7]Maaf, aku tidak bisa
[8] Maaf Ersoy, ini untukmu
[9] Ibu
[10] Salah satu jenis racun mematikan
** Cerpen ini menjadi Juara 1 dalam Lomba Cipta dan Baca cerpen HMM (Himpunan Mahasiswa Medan) Mesir
** Cerpen ini menjadi Juara 1 dalam Lomba Cipta dan Baca cerpen HMM (Himpunan Mahasiswa Medan) Mesir
