Membudayakan kembali budaya Indonesia

Jumat, 06 Desember 2013 0 comments
          Berbicara tentang budaya Indonesia tentunya tidak lepas dari para pelaku budaya itu sendiri. Indonesia merupakan negara dengan populasi rakyat yang besar. Tercatat lebih dari dua ratus juta jiwa menduduki negri ini. Populasi masyarakat yang besar sangatlah baik jika diiringi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai. Tentunya baik dan tidaknya suatu masyarakat dapat diukur dari norma dan perilaku yang ada pada pribadi mereka.

        Budaya memanusiakan manusia sudah menyatu dalam tubuh rakyat Indonesia. Hal itu dapat terlihat dari kondisi social masyarakat disekitar kita. Bagaimana seorang anak cacat mental mampu mendapatkan hak pendidikan mereka dengan didirikannya SLB (Sekolah Luar Biasa) yang memang khusus diperuntukan untuk mereka, atau anak-anak terlantar dan yatim piatu yang diberdayakan oleh panti asuhan. Dan masih banyak lagi budaya-budaya terpuji lain yang menjadi identitas bangsa kita.

         Masih hangat diingatan kita ketika seorang laki-laki berjalan bersama perempuan yang tidak ada hubungan darah dengannya merupakan sebuah hal yang tabu dilingkungan kita. Juga ketika seorang wanita, tengah malam berjalan sendiri tanpa disertai oleh ayahnya atau saudaranya. Namun hal ini sudah mulai terkikis perlahan-lahan dari kebiasaan Masyarakat kita. Yang muncul belakangan ini justru sebaliknya. Seorang perempuan bergandengan tangan dengan laki-laki bukan mahrom nya pun sudah biasa, atau bahkan bisa lebih dari sekedar bergandengan tangan.

        Bolehlah kita mengatakan itu sudah terjadi sekian tahun yang lalu, dan sekarang sudah berubah eranya. Namun perlu diingat bahwa sebuah Masyarakat jika tidak memiliki kontrol sosial yang baik niscaya akan terpuruk ke jurang dekadensi moral, dan ini yang kita takutkan bersama. Dan seperti apakah baiknya kontrol sosial kita yang seharusnya kita jadikan barometer?.

         Tidak perlu terlampau jauh, cukup dengan melestarikan kebudayaan leluhur kita dan menjaga norma serta nilai yang terkandung didalamnya itu sudah cukup. Dengan tetap memperhatikan korelasinya dengan nilai-nilai agama yang kita anut, dalam hal ini yaitu Islam sebagai agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia. Belumlah kita sampai ketahap mengahakimi suatu permasalahan dari sudut pandang tertentu atau dari sudut pandang agama, kita hanya mencoba mengembalikan adat istiadat orang-orang kita yang mulai kehilangan jati dirinya dalam bermasyarakat.

            Hal ini tidaklah cukup berhenti pada kalangan orang-orang dibalik layar. Para pementas panggung pun nampaknya sudah mulai kehilangan apa yang seharusnya mereka miliki. Sebut saja aktor kementerian kesehatan republik kita berusaha menghentikan laju virus mematikan AIDS dengan mengadakan PKN (Pekan Kondom Nasional). Selintas ini merupakan hal positif yang beralasan, namun bukan karena kondom mampu mencegah virus tersebut namun karena inisiatif penyelesaian masalah dengan masalah yang menjadi sorotan kita. Dan terbukti juga dalam penelitian bahwasannya kondom tidak mampu mencegah penyebaran virus AIDS.

            Dalam tulisan ini tadak akan kita bahas panjang lebar mengenai kasuistis yang terjadi disekitar kita. Hanya sebagai contoh apa yang telah berlalu dan sedang terjadi di lingkungan kita. Terkait bahasan PKN (Pekan Kondom Nasional) yang dijadikan salah satu proyek pencegahan AIDS malah menjadi problema dikalangan masyarakat kita, mulai dari pendistribusian yang kurang tepat, perubahan mindset bahwasannya seks tak menjadi masalah ketika menggunakan kondom, serta penggelontoran biaya puluhan milyar tanpa maslahat yang sebanding.

            Dalam kasus diatas sungguh sangat jelas penyelewengan atas nama sosial. Kenapa kita berani mengatakan penyelewengan atas nama sosial?, karena memang melanggar apa yang memang sudah menjadi norma ditengah masyarakat kita. Sebut saja norma agama yang sungguh sangat keras dalam membahas permasalahan hubungan lawan jenis yang tidak halal. Walaupun tidak secara terbuka menampilkan hal tersebut, namun dampak dari kegiatan tersebut mengarah kesana.

Sekarang solusi apa yang tepat untuk mengobati penyakit yang sedang melanda masyarakat kita?, setiap kita mampu untuk memberikan jawaban yang tentunya tidak akan sama. Apapun itu jawabannya, penulis mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus memperhatikan norma-norma ditengah masyarakat dengan tindakan yang akan kita lakukan tanpa mengurangi rasa hormat kita terhadap syari’at agama. Yang mana juga memperhatikan maslahat orang banyak tentunya.

Karena penulis sedang mendalami Islamic studies, penulis lebih banyak memberikan gagasan dari segi agama agar lebih objektif tanpa mengurangi penilaian dari sisi lain. Dan sebagai kalam terahir, tidak ada seorang yang menginginkan mudharat bagi kaumnya kecuali ia sendiri yang merupakan mudharat. Semoga bisa menjadi refleksi akhir tahun bagi rakyat Indonesia secara umum dan kaum muslimin khususnya.

*Tulisan ini diajukan untuk Beasiswa BWAKM yang penulis terima setiap bulannya

Sekolah Menulis Walisongo

Minggu, 01 Desember 2013 0 comments
Senangnya bisa berkumpul kembali bersama teman-teman SMW (Sekolah Menulis Walisongo) untuk melaksanakan pertemuan rutin dwi mingguan kami. Acara bertempat di Sekretariat KSW (Kelompok Study Walisongo) Hay 'asyir, Nasr City, Cairo. Tepat setelah shalat Ashar Acara dimulai. Pertemuan kali ini agak sedikit lebih istimewa karena bertepatan juga dengan ulang tahun SMW yang kedua. Pada pertemuan kali ini kita membahas cerpen milik Mahfudz dan Istianah, disana cerpen milik keduanya dikoreksi, diberi masukan, dan saling menambahkan jika ada yang kurang. Kebetulan pertemuan sebelumnya kita mengkaji dan mengoreksi cerpen milik saya dan Fathimah, sehingga sekarang cerpen milik kami tidak dikoreksi lagi.

Acara berlangsung cukup meriah, mulai dari editing teks, editing isi, serta saut-sautan antara teman yang satu dengan yang lain menyuarakan pendapat mereka. Semakin larut semakin dingin pula udara Cairo. Ketika datang waktu maghrib kita luangkan waktu sejenak untuk menunaikan shalat. Dan setelah maghrib kita lanjutkan lagi pembahasan cerpen milik Mahfudz dan Istianah. Pada pertemuan kali ini kita juga membahas Proyek Penulisan Antologi Cerpen yang mana sudah disepakati pada pertemuan sebelumnya dengan tema "Historical Fiction". Akan tetapi banyak suara dari teman-teman untuk mengganti tema yang sudah ada, hingga kemudian kita sepakat untuk mengganti tema menjadi "Dinamika Sosial Masyarakat"

Hingga kemudian datang waktu yang ditunggu-tunggu kue ulang tahun buatan mb' Nisa siap disantap,, dan sebelumnya kita sempat foto dulu sebelum menyantap tuh kue,, semoga Panjang umur ya SMW :)

Muharram Ceria bikin Ceria

Jumat, 29 November 2013 0 comments
Alhamdulillah acara Muharram Ceria yang diadakan Himpunan Mahasiswa Medan di Mesir berjalan lancar. Acara berlangsung tepat setelah shalat Maghrib bertempat di Istana Maemun, Hay 'Asyir, Nasr City, Cairo. Berawal dari telepon yang kuterima dari panitia acara beberapa hari yang lalu, aku diminta untuk mempersiapkan cerpen yang telah kuikutkan dalam lomba cipta dan baca cerpen yang mana merupakan salah satu rentetan acara Muharram Ceria 1435 Hijriyyah. Panitia mengadakan tiga lomba yang berbeda diantaranya cipta dan baca puisi, cipta dan baca cerpen, dan qiro'atul kutub.

Acara juga dihadiri oleh rombongan dari IPQI (Ikatan Persaudaraan Qari' Qari'ah Indonesia) dan group Akustik dari Himpunan Mahasiswa Medan. Hingga kemudian namaku disebut untuk maju ke panggung untuk menampilkan cerpen milikku yang ternyata menjadi pilihan para juri dalam lomba cipta dan baca cerpen. fyuh,, padahal nggak siap gini. Tapi bersyukur juga dengan perolehan juara 1 ini jadi bikin kantong terisi lagi, hehe. Pada acara puncak ketua panitia menyerahkan hadiah kepada para peserta (termasuk saya, hehe) berupa Piagam dan amplop (ini yg saya tunggu :D) hingga kemudian acara pun berakhir dengan damai (kayak apa aja)





Setelah keluar acara saatnya ngintip amplop deh, walhasil Alhamdulillah ada isinya satu lembar :D
bisa buat bayar rumah sama makan sebulan kalo di Mesir tuh. 200 EGP cukup disakuin dan pulang kerumah dengan tenang

Gerhana Matahari from Egypt

Selasa, 05 November 2013 1 comments
Alhamdulillah kunjungan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Cairo Mesir beserta Teman-Teman kajian Afda(Falak) ke Observatorium helwan berjalan lancar. kurang lebih sekitar 30 orang ikut menyertai kunjungan dalam rangka menikmati keindahan Gerhana Matahari sebagian ini. saya berangkat dari rumah sekitar pukul 12.30 setelah shalat dzuhur. padahal temen2 lain sudah berangkat sejak pukul 10.00 CLT namun ini menjadi pengalaman baru bagiku, menyusuri tempat yang belum pernah kukunjungi sebelumnya. Dari Qatameyah diriku menaiki angkutan Tramco(angkutan dalam kota) menuju sayyidah 'aisyah, dari sana aku naik bus Merah seharga satu pound mesir menuju Mahattoh(Halte) Metro di Malek Saleh. selanjutnya kulanjutkan perjalanan menuju helwan menggunakan Metro(kereta bawah tanah) melewati 12 halte yang lumayan menempuh banyak waktu ini. di Pemberhentian terahir Metro seorang temanku sudah menunggu untuk melanjutkan perjalanan naik ke observatorium. Aku bersama Azwar, teman sedari sekolah menengah dulu mulai mencari2 Tramco yang mau menghantarkan kita sampai ke Observatorium, namun nihil,, tak ada satupun Tramco yang ada. wal hasil kita berdua sepakat untuk naik Taxi saja, karena memang sudah mepet dengan jadwal munculnya Gerhana Matahari, sekitar pukul 3 sore. dan akhirnya kita bisa bereksis ria bersama teman2 lain yang sudah menunggu :D

Cerpen; Panggung realita

Minggu, 13 Oktober 2013 0 comments
Panggung Realita[1]
Imam masjid kembali memasuki ruangan yang sudah disediakan selesai shalat, dan aku masih sibuk melantunkan doaku. Usai shalat Ashar jamaah Masjid Biru kembali meneruskan kesibukan mereka masing-masing. Masjid yang cukup tua ini menjadi ikon yang berarti bagi keberadaan orang-orang islam di Turki. Keindahan desain masjid menjadikan banyak wisatawan Asing penasaran dengan rupanya yang begitu memukau. Masjid yang mampu memuat kurang lebih sepuluh ribu Jama'ah ini memang sudah lama ada. Persis sekitar tahun 1609 M. bangunan masjid ini didirikan. yah, walaupun aku tak tau siapa pendirinya, yang terpenting, keindahan masjid yang tiada duanya ini bisa kunikmati.
Kususuri taman didepan masjid, sesekali kulirik enam menara Masjid Biru yang tampak gagah menjulang. Aku kembali teringat beberapa tahun silam ketika ibu masih disisiku. Seringkali ia mengajakku mengunjungi tempat indah ini. Kami sering berkunjung sore hari kala matahari malu untuk memandangku. Tepat ditaman depan Aya Sophia aku bergurau dan bercerita dengan dirinya, sesekali ia mengangguk atau hanya membalas dengan senyum simpul. Aya Sophia menjadi sebuah Masjid setelah sebelumnya berupa Gereja. Ya, kini aku mampu menikmati dua Peradaban besar Byzantine dan Utsmani. Aku berada diantara Masjid Biru dan Aya Sophia. Ditengah icon dua agama besar, Kristen dan Islam. Dan yang terpenting adalah diriku mampu untuk menikmati manisnya iman, setelah melewati masa-masa kelam dimasa lalu.
"Ersoy, Sana kahve ismarlayacagim olur mu?"[2]
Muncul suara dari arah belakangku. Ternyata Fatih datang menyelamatkanku dari lamunan panjang. Fatih, seorang yang beruntung mendapati kedua orang tuanya dalam satu kepercayaan yang sama, juga seorang sahabat yang dekat karena sebab keimanan kami yang sama pula. pertama kali bertemu dirinya tatkala ikrar syahadatku kuucapkan selepas Maghrib tiga tahun lalu di Masjid Biru, aku seorang mu’allaf. Kebetulan rumahnya pun tak jauh dari sini.
"Tamam.Beni nereye götüreceksin?"[3]tanyaku,
"Kafeda MASRY"[4] jawabnya,

"Hadi!"[5]pungkasku.
         Aku dan Fatih berjalan bersama menuju Kedai Kopi dibelakang Aya Sophia. Fatih sahabat yang sangat baik, aku sering meminta tolong segala hal padanya, dan tak pernah sekalipun ia mengeluh padaku. Kami sering diskusi bersama tentang banyak topik. Tentang gejolak Arab Spring, sejarah kekhalifahan islam yang sempat mampir dinegara kami, juga mengenai Uni Eropa yang mulai tidak suka dengan perkembangan hukum pemerintahan Turki yang lebih condong ke Islam. Setelah sekian lama menjadi Negara sekuler, Turki mulai kembali ke praktik keagamaan tradisional sejak tahun 1946 M. Ditandai dengan peringanan kontrol politik otoriter semuanya berangsur kembali. Bahkan terakhir aku mendengar Perdana menteri memberi mandat untuk menghapus larangan berhijab para muslimah yang menjadi Pegawai Negeri.
            Kami memasuki Kedai Kopi yang jadi langganan kami berdua. Walaupun kedai kopi ini milik orang Mesir, tetapi bentuknya jauh berbeda seperti kedai kopi di Kairo. Dua tahun yang lalu aku sempat berkunjung ke Mesir untuk travelling, dan sedikit banyak tahu ujung-ujung kota Kairo. Kedai Kopi Masry jauh lebih baik dan lebih bersih, ini yang bikin betah para pengunjung. Ditambah dengan fasilitas full music nya yang unik, karena lagu-lagu yang diputar berbahasa Arab Mesir. Kali ini Ana Masry milik Nancy Agram sedang diputar. Walaupun Nancy Agram bukan orang Mesir, tapi seolah lagu ini jadi lagu kebangsaan kedua di Mesir. Fatih mulai memesan dua kopi Ben 'Arossa yang menjadi andalan kami berdua, dan aku mulai mencari-cari tema yang bisa diobrolkan di senja kali ini. Teringat cerita seorang Muadzin di Masjid Biru sebelum Ashar, ia bercerita bahwa seorang Musisi Turki menghina Islam melalu jejaring sosial baru-baru ini. Kadang aku berfikir, ternyata masih banyak orang yang tidak menyukai Islam. Walaupun geram juga ketika mendengar pemberitaan yang memojokkan dan memandang rendah Islam.
         Mu'allaf baru, mungkin tepat disematkan pada diriku. Sejak awal keislamanku, ibuku belum mengetahui kenyataan ini. Sampai suatu ketika ia yang baik hati dan lembut tutur katanya mengetahui Agama baru yang melekat padaku. Kemudian Aku ajak ibu untuk ikut bersamaku dalam meniti jalan lurus yang dijanjikan Allah. Seolah tak terjadi apa-apa, ia hanya memintaku memilih antara Islam atau dirinya. Bukan kepalang aku pusing dibuatnya, namun aku tetap bersikukuh untuk tetap memegang teguh jawaban atas seluruh keraguanku saat itu. Hingga kepergianku dari rumah menjadi titik awal pengembaraanku terhadap Agama yang mulia ini.
              Aku sibukkan diriku dalam kegiatan LSM di Masjid Bitu. Kesibukanku semakin bertambah setelah gejolak revolusi di negeri Arab menjadi-jadi. Lembaga milik kami selalu berurusan dengan segala kepentingan yang bertajuk muslim. Mengakomodir bantuan, Pengiriman relawan, serta publikasi realita yang terjadi ditengah konflik. Aku berusaha menjadikan diriku seseorang yang bermanfaat untuk orang lain.
             Ribuan dollar hampir setiap hari keluar masuk kantong kas Lembaga Swadaya milik kami, dan ini merupakan amanat yang besar. Kali ini aku sedang tertarik dengan perkembangan Suriah, Negeri Syam yang penuh dengan darah dan akan menjadi titik awal perang besar bagi ummat manusia seperti yang dijanjikan Nabiku melalui lisannya. Bantuan uang, makanan, obat-obatan, serta relawan, selalu kita kirimkan kesana dalam dua pekan sekali.Tentunya dalam jumlah yang tidak sedikit. Aku pikir inilah jalan terbaik yang bisa kutempuh. Sedangkan yang kutahu diluar sana banyak kepentingan tiap golongan berbeda yang saling tumpang tindih. Walaupun katanya banyak fitnah di Negeri tersebut, akan tetapi sebagai seorang muslim aku tak mau melihat luka saudara dibiarkan begitu saja.
            Tepat diatas mejaku dan Fatih sudah ada koran yang selalu disediakan pemilik kedai. Sedikit kubaca dan kucari sesuatu yang menarik selagi menunggu kopi milik kami. Ahai, sebuah berita yang membuatku sedikit tersenyum, "Seorang Pianis kenamaan dijebloskan penjara". Aku sedikit menyimpulkan, jangan menghina Islam di Turki, karena Negeri ini telah banyak berubah. Begitu juga dengan kebijakan-kebijakkan Turki dalam memandang permasalahan Dunia. Mungkin ini yang menjadikan Negara-Negara Uni Eropa kembali memandang sebelah mata Negri ini, setelah dahulu sempat dirangkul erat pasca naiknya Mustafa Kemal Atatürk sebagai Pendiri dan Presiden pertama Republik Turki.
             Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Kopi Ben 'Arossa milik kami datang. Belum sempat kopi panas kuminum tiba-tiba telepon genggamku berdering pertanda ada panggilan masuk. Kusempatkan untuk mengangkatnya terlebih dahulu, takut ada sesuatu yang mendesak.
"Stop your activities in syria if you want to meet with your mother"[6]
Terdengar sayup suara diseberang sana, dan sepertinya bukan suara orang Turki.
"Sorry, I can’t"[7]jawabku,
Tanpa banyak bicara kututup telepon dengan segera. Aku terlalu bosan menerima ancaman yang bermacam-macam. Banyak yang memintaku untuk segera menghentikan program kemanusiaan yang sedang kutekuni di Negeri Syam. Bahkan sudah tak terhitung ancaman melalui telepon yang sering kuterima setiap harinya. Namun aku mulai bertanya dalam hati, kenapa ibuku masuk dalam ancaman ini. Aku hanya bisa berharap ini sebuah ancaman yang biasa kuterima seperti sebelumnya.
              Untuk meredakan gejala emosi yang muncul tiba-tiba, aku ambil jatah kopi panas ku. Dengan gelas bermotif bunga yang penuh warna menjadikanku sedikit mudah menstabilkan diri. Walaupun penuh dengan kegiatan sehari-hari yang membuat penat kepala, namun dengan mudah dapat kuobati dengan memesan kopi panas bersama Fatih di kedai ini. Sedikit kucicipi kopi panas tersebut dan kemudian kuletakkan kembali gelas bermotif bunga diatas meja. Kupandangi sahabatku Fatih yang duduk tepat didepanku sembari melemparkan senyum manis sebagai shadaqah ku di kala senja. Karena senyum adalah shadaqah tutur nabi akhir zaman. Namun belum genap senyumku mengembang tiba-tiba kepala begitu pusing dan jantungku berdegup begitu kencang. Aku tak tahu apa yang kurasakan, yang pasti tubuhku mulai berat.
"I’m sorry ersoy, this is for you"[8]
Tiba-tiba Fatih berujar padaku dengan senyum penuh kemenangan. Aku kaget Fatih bisa berbahasa inggris, padahal sejauh yang kuketahui ia hanya mampu berbahasa Turki. Hingga kesimpulan tak berujung menjadi jalan buntu bagiku.
Badanku ambruk keatas meja, dengan kepala menghadap jalanan didepan kedai kopi. Aku dengan separuh kesadaran melihat seorang wanita tua dengan kerudung putihnya mencoba menyeberangi jalan raya kearah kedai kopi tempatku terdiam, dan tiba-tiba sebuah mobil Chevrolet hitam menghantamnya dengan keras hingga ia terhempas tak sadarkan diri. Aku mencoba mengeluarkan sebuah kata namun sangat berat, dan akhirnya kata itu keluar dengan lirih
"Anne"[9]
Tanpa terasa air mata mengalir dari ujung mataku. Hingga kemudian semuanya gelap, dan aku tak tahu apa yang terjadi. Sianida[10] menjadi akhir segalanya.




[1]Oleh : Muhammad Bakhrul Ilmi (Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar Cairo)
[2]Ersoy,maukah kau kuajak minum kopi bersama?
[3]baiklah, mau kau ajak kemana aku?
[4]Kedai Kopi MASRY
[5]Ayo!
[6]Hentikan aktivitas Anda di Suriah jika Anda ingin bertemu dengan ibumu
[7]Maaf, aku tidak bisa
[8] Maaf Ersoy, ini untukmu
[9] Ibu
[10] Salah satu jenis racun mematikan

** Cerpen ini menjadi Juara 1 dalam Lomba Cipta dan Baca cerpen HMM (Himpunan Mahasiswa Medan) Mesir

Pages